Oleh: Ustadz Muhammad Wasitho Abu
Fawwaz, Lc حَفِظَهُ اللهُ
بِسْــــــــــــــــــمِ
اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Redaksi
haditsnya adalah,
قَالَ نُعَيْمٌ بْنُ حَمَّادٍ :
حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ قَالَ : حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ
بْنُ حُسَيْنٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ
الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيِّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “إذا كانَتْ صَيْحَةٌ في
رمضان فإنه تكون مَعْمَعَةٌ في شوال، وتميز القبائل في ذي القعدة، وتُسْفَكُ
الدِّماءُ في ذي الحجة والمحرم.. قال: قلنا: وما الصيحة يا سول الله؟ قال: هذه في
النصف من رمضان ليلة الجمعة فتكون هدة توقظ النائم وتقعد القائم وتخرج العواتق من
خدورهن في ليلة جمعة في سنة كثيرة الزلازل ، فإذا صَلَّيْتُمْ الفَجْرَ من يوم
الجمعة فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم، وسدوا كواكـم، ودَثِّرُوْا أَنْفُسَكُمْ،
وَسُـدُّوْا آذَانَكُمْ إذا أَحْسَسْتُمْ بالصيحة فَخَرُّوْا للهِ سجدًا،
وَقُوْلُوْا سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ ، ربنا
القدوس فَمَنْ يَفْعَلُ ذَلك نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ)
Nu’aim
bin Hammad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu
Lahi’ah, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab bin Husain, dari
Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari
Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau
bersabda: “Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi
huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar
suku, pent) di bulan Dzul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul
Hijjah dan Muharram…”. Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?” Beliau
menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul
suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh
terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun
terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari
Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya,
sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga
kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian
kepada Allah dan ucapkanlah: “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah
Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”, kerana barangsiapa melakukan hal itu, niscaya
ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan
binasa”.
Taarikh Hadits:
Hadits
ini diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad di dalam kitab Al-Fitan I/228 No.638 dan Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi di dalam
kitab Kanzul ‘Ummal No.39627.
Derajat Hadits:
Hadits ini derajatnya palsu
(maudhu’), karena di dalam sanadnya terdapat beberapa perawi hadits yang
pendusta dan bermasalah sebagaimana diperbincangkan oleh para ulama hadits.
Para perawi tersebut ialah sebagaimana berikut ini
1. Nu’aim bin Hammad
Dia seorang
perawi yang dha’if (lemah).
An-Nasa’i
berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah).” [Lihat Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin karya
An-Nasa’i I/101 No.589.
Abu Dawud berkata:
“Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dua puluh hadits dari Nabi ﷺ yang tidak mempunyai dasar sanad (sumber asli, pent).”
Imam Al-Azdi
mengatakan: “Dia termasuk orang yang memalsukan hadits dalam membela As-Sunnah,
dan membuat kisah-kisah palsu tentang keburukan An-Nu’man (maksudnya, Abu
Hanifah, pent), yang semuanya itu adalah kedustaan.” [Lihat Mizan Al-I’tidal karya imam Adz-Dzahabi
IV/267]
Imam
Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Tidak boleh bagi siapa pun berhujjah
dengannya, dan ia telah menyusun kitab Al-Fitan, dan menyebutkan di dalamnya
keanehan-keanehan dan kemungkaran-kemungkaran.” [Lihat As-Siyar A’lam An-Nubala X/609]
2. Ibnu Lahi’ah (Abdullah bin Lahi’ah)
Dia seorang
perawi yang dha’if (lemah), karena mengalami kekacauan dalam hafalannya setelah
kitab-kitab haditsnya terbakar.
An-Nasa’i
berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah).” [Lihat Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin karya
An-Nasa’i I/64 No.346.
Al-Hafizh Ibnu
Hajar Al-Asqalani berkata: “Dia mengalami kekacauan di dalam hafalannya setelah
kitab-kitab haditsnya terbakar.” [Lihat Taqrib At-Tahdzib I/319 No.3563]
3. Abdul Wahhab bin Husain
Dia seorang
perawi yang majhul (tidak dikenal).
Al-Hakim
berkata tentangnya: “Dia seorang perawi yang majhul (tidak jelas jati dirinya
dan kredibilitasnya).” [Lihat Al-Mustadrak No.8590]
Imam
Adz-Dzahabi berkata di dalam At-Talkhish: “Dia mempunyai riwayat hadits palsu.”
[Lihat Lisan Al-Mizan karya Al-Hafizh Ibnu Hajar
Al-Asqalani II/139]
4. Muhammad bin Tsabit Al-Bunani
Dia seorang
perawi yang dha’if (lemah dalam periwayatan hadits) sebagaimana dikatakan oleh
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Hibban dan An-Nasa’i.
An-Nasa’i
berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah).”
Yahya bin
Ma’in berkata: “Dia seorang perawi yang tidak ada apa-apanya.” [Lihat Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal karya Ibnu
‘Adi VI/136 No.1638]
Ibnu Hibban
berkata: “Tidak boleh berhujjah dengannya, dan tidak boleh pula meriwayatkan
darinya.” [Lihat Al-Majruhin karya Ibnu Hibban II/252 No.928]
Imam Al-Azdi
berkata: “Dia seorang yang gugur riwayatnya.” [Lihat Tahdzib At-Tahdzib karya Al-Hafizh Ibnu
Hajar Al-Asqalani IX/72 No.104]
5. Al-Harits bin Abdullah Al-A’war Al-Hamdani.
Dia seorang
perawi pendusta, sebagaimana dinyatakan oleh imam Asy-Sya’bi, Abu Hatim dan
Ibnu Al-Madini.
An-Nasa’i
berkata tentangnya: “Dia bukan seorang perawi yang kuat (hafalannya, pent).” [Lihat Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal karya Ibnu
‘Adi II/186 No.370.
Al-Hafizh Ibnu
Hajar Al-Asqalani berkata tentangnya: “Imam Asy-Sya’bi telah mendustakan
pendapat akalnya, dan dia juga dituduh menganut paham/madzhab Rafidhah
(syi’ah), dan di dalam haditsnya terdapat suatu kelemahan.” [Lihat Taqrib At-Tahdzib I/146 No.1029.
Ali bin
Al-Madini berkata: “Dia seorang pendusta.”
Abu Hatim
Ar-Razi berkata: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah.” [Lihat Siyar A’lam An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IV/152 No.54.
Perkataan Para Ulama Tentang Hadits Ini
Al-Uqaily رَحِمَهُ اللهُ
berkata: “Hadits ini tidak memiliki dasar dari hadits yang diriwayatkan
oleh perawi yang tsiqah (terpercaya), atau dari jalan yang tsabit (kuat dan
benar adanya).” [Lihat Adh-Dhu’afa Al-Kabir III/52]
Ibnul Jauzi رَحِمَهُ اللهُ berkata:
“Hadits ini dipalsukan atas nama Rasulullah ﷺ.” [Lihat Al-Maudhu’aat III/191]
Syaikh Al-Albani رَحِمَهُ اللهُ berkata:
“Hadits ini palsu (maudhu’). Dikeluarkan oleh Nu’aim bin Hammad dalam kitab
Al-Fitan.” Dan beliau menyebutkan beberapa riwayat dalam masalah ini dari Abu
Hurairah dan Abdullah bin Mas’ud ﺭَﺿِﻲَ
ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ . [Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa
Al-Maudhu’ah No.6178,
6179]
Syaikh Abdul Aziz bin Baz رَحِمَهُ اللهُ berkata:
“Hadits ini tidak mempunyai dasar yang benar, bahkan ini adalah hadits yang
batil dan dusta.” [Lihat Majmu’ Fatawa Bin Baz XXVI/339-341]
Kesimpulan:
Hadits
ini adalah hadits maudhu’ (palsu). Tidak boleh diyakini sebagai kebenaran dan dinisbatkan
kepada Nabi Muhammad ﷺ. Karena di
samping sanad hadits ini tidak ada yang dapat diterima sebagai hujjah, juga realita telah
mendustakannya. Sebab telah berlalu tahun-tahun yang banyak dan telah terjadi
berulang kali hari Jum’at yang bertepatan dengan tanggal lima belas
(pertengahan) bulan Ramadhan, namun kenyataannya tidak pernah terjadi
sebagaimana berita yang terkandung di dalam hadits ini, Alhamdulillah.
Oleh karena itu, kita dilarang
keras menyebarluaskannya kepada orang lain baik melalui media cetak maupun
elektronik, atau dalam obrolan dan khutbah kecuali dalam rangka menjelaskan
sisi kelemahan, kepalsuan, dan kebatilannya, serta bertujuan untuk
memperingatkan umat darinya.
Jika kita telah melakukan ini,
berarti kita telah bebas dan selamat dari ancaman keras Nabi ﷺ, yaitu berupa masuk neraka bagi siapa saja yang sengaja
berdusta atas nama beliau, baik dengan tujuan menjelekkan Nabi ﷺ dan ajarannya, atau dalam rangka membela Nabi dan memotivasi
kaum muslimin untuk bersemangat dalam beribadah kepada Allah.
Demikian jawaban atas pertanyaan
dalam masalah ini yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi ilmu yang
bermanfaat bagi kita semua.
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
وبالله التوفيق وصلى الله على
نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Referensi:
http://abufawaz.wordpress.com
Komentar
Posting Komentar