Belakangan
ini, ghirah (semangat) menuntut ilmu agama semakin gencar dan meluap. Berbagai
sikap membela agama Islam semakin mengemuka lantaran menjamurnya liberalisme
dan sekulerisme. Namun rupanya peristiwa ini juga sebagai akibat dari adanya hadits-hadits
dha’if dan maudhu’ (palsu) terkait bulan Rajab.
Berikut
ini beberapa hadits lemah dan palsu terkait bulan Rajab yang sudah tersebar di
tengah-tengah umat. Harapan kami, penguraian hadits-hadits tersebut menghindarkan
umat Islam untuk terjebak pada amalan-amalan yang tidak berlandaskan as-sunnah
dan penisbatan kepada Rasulullah ﷺ secara
serampangan.
Karena
tentu sebuah amalan baru yang tidak disyari’atkan Rasulullah ﷺ hukumnya tertolak. Sedangkan
penisbatan hadits kepada Rasulullah ﷺ secara
asal-asalan tentu memiliki konsekuensi berat.
Sebagaimana
hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه , bahwa Rasulullah
ﷺ bersabda,
مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا
فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa yang
berdusta atasku dengan sengaja, maka siapkan tempat duduknya di neraka." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Dari
Al-Mughiroh bin Syu’bah رضي الله عنه , bahwa Rasulullah
ﷺ bersabda,
مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ
يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ
“Barangsiapa
menyampaikan hadits atas namaku padahal dia menyangka bahwa itu adalah dusta
maka dia termasuk salah satu pendusta.” [HR. Muslim]
Dari
Jabir bin Abdillah ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ,
bahwa Rasulullah ﷺ juga bersabda,
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ
الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Ammaa ba’du,
sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk
adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru dalam
agama, dan setiap bid'ah itu sesat.”
[HR. Muslim]
Berikut
ini kami sampaikan hadits-hadits dhaif dan maudhu’ tersebut:
1. Hadits:
إِنّ فِي الْجنَةِ نَهْرًا يُقالُ لَه
رَجَبٌ أَشَدُّ بَياضًا مِن اللّبَنِ وَأَحْلَى مِن الْعَسلِ، مَن صَامَ يَومًا
مِن رَجَبٍ سَقاهُ اللهُ تَعالَى مِنْ ذَلكَ النّهرِ
“Sesungguhnya
di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada
susu, lebih manis dari pada madu, siapa yang puasa sehari di bulan Rajab maka
Allah akan memberi minum orang ini dengan air sungai tersebut.”
Taarikh hadits:
Riwayat Abul
Qosim At Taimi dalam At Targhib wat
Tarhib, Al Hafidz Al Ashbahani dalam kitab Fadhlus Shiyam, dan Al Baihaqi dalam Fadhail Auqat. Ibnul Jauzi mengatakan dalam Al Ilal Al Mutanahiyah: “Dalam sanadnya terdapat banyak perawi yang tidak dikenal, sanadnya dhaif
secara umum, namun tidak sampai untuk dihukumi palsu.”
Hadits ini diriwayatkan oleh
ad-Dailamy (I/2/281) dan al-Ashbahany di dalam kitab at-Targhib (I-II/224) dari
jalan Mansyur bin Yazid al-Asadiy telah menceritakan kepada kami Musa bin
‘Imran, ia berkata: “Aku mendengar Anas bin Malik berkata, …”
Imam adz-Dzahaby berkata: “Mansyur bin
Yazid al-Asadiy meriwayatkan darinya, Muhammad al-Mughirah tentang keutamaan
bulan Rajab. Mansyur bin Yazid adalah
rawi yang tidak dikenal dan khabar (hadits) ini adalah bathil.” [Lihat Mizaanul I’tidal (IV/ 189)]
Syaikh Al Albany berkata: “Musa bin
‘Imraan adalah majhul dan aku tidak mengenalnya.” [Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah No.1898]
2. Hadits:
إنَّ فِي الْجنّةِ نَهْراً يُقالُ له
رَجَبٌ مَاؤُهُ الرّحِيقُ، مَنْ شَرِبَ مِنه شُربةً لَمْ يَظْمَأْ بَعدَها أبَداً،
أَعَدّهُ اللهُ لِصَوَّامِ رَجَبٍ.
“Sesungguhnya di al-jannah itu
terdapat sebuah sungai yang dinamakan Rajab, airnya adalah ar-rahiq (sejenis minuman
yang paling lezat rasanya), yang barangsiapa minum darinya seteguk saja, dia
tidak akan merasakan haus selamanya. Sungai tersebut Allah sediakan untuk orang
yang sering berpuasa Rajab.”
[hadits bathil, serupa dengan
maudhu']
3. Hadits
tentang doa memasuki rajab:
كَانَ النّبِي صلى الله عليه وسلم إِذَا
دَخَلَ رَجَب قال : اللّهُمّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا
رَمَضَانَ.
“Adalah
Nabi ketika memasuki bulan Rajab, beliau berdoa,
اللّهُمّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ
وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah, limpahkanlah barakah pada
kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.”
Taarikh hadits:
Riwayat Ahmad, dan di
sanadnya terdapat perawi Zaidah bin Abi Raqqad, dari Ziyadah An Numairi.
Tentang para perawi ini, Imam Bukhari mengatakan, “Munkarul hadits”. An Nasa’i
mengatakan, “Munkarul hadits”. Sementara Ibn Hibban menyatakan, “Haditsnya tidak bisa dijadikan dalil.” Imam Nawawi menyebutkan hadits ini dhaif.
4. Hadits:
“Sesungguhnya Nabi ﷺ
tidak pernah puasa setelah Ramadhan, selain di bulan Rajab dan
Sya’ban.”
Taarikh hadits:
Riwayat Al
Baihaqi. Ibn Hajar mengatakan, “Ini adalah hadits
munkar, disebabkan adanya perawi yang bernama Yusuf bin Athiyah, dia orang
yang dhaif sekali,” [Tabyinul Ajab, Hal. 12]
5. Hadits:
رَجَبٌ شَهرُ اللهِ وَشَعبانُ شَهرِيْ
وَرَمضانُ شَهرُ أُمّتِي
“Rajab adalah
bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”
Taarikh hadits:
Riwayat Abu
Bakr An Naqasy. Al Hafidz Abul Fadhl Muhammad bin Nashir mengatakan, “An Naqasy
adalah pemalsu hadits, pendusta.” Ibnul
Jauzi, As Suyuthi, dan As
Shaghani dalam Maudhu’atush Shaghani (I/61) No.129 menyebut
hadits ini dengan hadits maudhu’ (palsu).
6. Hadits:
فَضْلُ شَهْرِ
رَجَبٍ عَلَى الشُّهُورِ كَفَضْلِ القُرآنِ عَلى سَائِرِ الكَلامِ، وَفَضْلُ
شَهْرِ شَعْبانَ عَلَى الشّهُورِ كَفَضْلِي عَلَى سَائِرِ اْلأَنْبِياءِ، وَفَضْلُ
شَهْرِ رَمَضانَ كَفَضلِ اللهِ عَلى سَائِرِ الْعِبَادِ.
“Keutamaan
bulan Rajab atas bulan-bulan yang lain adalah seperti keutamaan Al-Qur’an atas
seluruh perkataan, keutamaan bulan Sya’ban atas bulan-bulan yang lain adalah
seperti keutamaanku atas seluruh para nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan atas
bulan-bulan yang lain adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh hamba.”
Taarikh hadits:
Ibnu Hajar
mengatakan, “Perawi hadits ini ada yang
bernama As Saqathi, dia adalah penyakit dan orang yang terkenal sebagai pemalsu
hadits.” [Lihat al-Mashnu’
fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ No.206 hal.128 oleh
Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat th.1014 H)]
7. Hadits:
“Rajab adalah
bulan Allah Al Asham. Siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab, atas dasar
iman dan ihtisab (mengharap pahala) maka dia berhak mendapat ridha Allah yang besar.”
Taarikh hadits:
Hadits maudhu’ (palsu), sebagaimana
penjelasan As Syaukani dalam Al Fawaid Al
Majmu’ah.
8. Hadits:
صَومُ أَوّلِ يَومٍ مِن رَجَبٍ
كَفّارَةُ ثَلاثِ سِنِيْنَ ، وَالثّانِي كَفّارةُ سَنَتَيْنِ ،والثّالِثُ كَفّارةُ
سَنَة ثُمّ كُلّ يومٍ شهْراً
“Berpuasa pada hari pertama bulan
Rajab sebagai kaffarah (penebus dosa) selama tiga tahun, pada hari kedua
sebagai kaffarah selama dua tahun, dan pada hari ketiga sebagai kaffarah selama
setahun, kemudian setiap harinya sebagai kaffarah selama sebulan.” [hadits
dha'if]
9. Hadits:
مَن صامَ ثلاثةَ أيامٍ مِن رجب كَتَبَ اللهُ لَه صِيامَ
شَهْرٍ ، وَمن صامَ سَبعةَ أيّامٍ مِن رَجَبٍ أَغْلَقَ الله سَبعةَ أبوابٍ مِن
النّارِ ، وَمن صامَ ثَمانِيةَ أيّامٍ مِن رجبٍ فَتَحَ الله لَه ثَمانِيَةَ أبوابٍ
مِن الْجَنّةِ، ومن صامَ نِصفَ رَجَبٍ كَتَبَ الله له رِضوانَه، وَمن كُتِب لَه
رِضْوانُه لَم يُعَذِّبْه، ومَن صامَ رجب كُلَّه حَاسَبَه الله حِساباً يَسِيراً.
“Barangsiapa
yang berpuasa tiga hari bulan Rajab, Allah akan menuliskan untuknya pahala
puasa selama sebulan, barangsiapa yang berpuasa tujuh hari bulan Rajab, Allah
akan tutup tujuh pintu neraka, barangsiapa yang berpuasa delapan hari bulan
Rajab, Allah akan bukakan untuknya delapan pintu al-jannah, barangsiapa yang
berpuasa pada pertengahan bulan Rajab, maka Allah akan menuliskan untuknya
keridhaan-Nya, dan barangsiapa yang dituliskan baginya keridhaan-Nya, pasti
Allah tidak akan mengadzabnya, dan barangsiapa yang berpuasa Rajab satu bulan
penuh, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.”
Taarikh hadits:
Hadits palsu, sebagaimana keterangan Ibnul
Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2:206. Dalam sanad hadits tersebut ada dua
perawi yang sangat lemah:
a) ‘Amr bin al-Azhar al-‘Ataky.
Imam an-Nasa-i berkata: “Dia Matrukul
Hadits.” Sedangkan kata Imam al-Bukhari: “Dia dituduh sebagai pendusta.” Kata
Imam Ahmad: “Dia sering memalsukan hadits.”
Lihat adh-Dhu’afa wal Matrukin No.478 oleh Imam an-Nasa-i, Mizaanul I’tidal (III/245-246), al-Jarh wat Ta’dil (VI/221), dan Lisaanul Mizaan (IV/353).
b) Abaan bin Abi ‘Ayyasy, seorang Tabi’in
shaghiir.
Imam Ahmad dan
an-Nasa-i berkata: “Dia Matrukul Hadits (ditinggalkan haditsnya).” Kata Yahya
bin Ma’in: “Dia matruk.” Dan beliau pernah berkata: “Dia rawi yang lemah.”
Lihat Adh Dhu’afa wal Matrukin No.21, Mizaanul I’tidal (I/10), al-Jarh wat Ta’dil (II/295), Taqriibut Tahdzib (I/51 No.142).
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu
Syaikh dari jalan Ibnu ‘Ulwan dari Abaan. Kata Imam as-Suyuthi: “Ibnu ‘Ulwan
adalah pemalsu hadits.” [Lihat al-Fawaaidul
Majmu’ah hal.102 No. 288]
10. Hadits:
“Siapa yang
shalat maghrib di malam pertama bulan Rajab, setelah itu dia shalat dua puluh
rakaat, setiap rakaat dia membaca Al Fatihah dan surat Al Ikhlas sekali, dan
dia melakukan salam sebanyak sepuluh kali. Tahukah kalian apa pahalanya?”
….lanjutan hadits: “Allah akan menjaga
dirinnya, keluarganya, hartanya, dan anaknya. Dia dilindungi dari siksa kubur…”
Taarikh hadits:
Kata Ibnul
Jauzi: “Hadits ini palsu dan kebanyakan
rawi-rawinya adalah majhul (tidak dikenal biografinya).” [Lihat al-Maudhu’at Ibnul Jauzy (II/123), al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits
Maudhu’at oleh as-Syaukany No.144, dan Tanziihus Syari’ah al-Marfu’ah ‘anil
Akhbaaris Syanii’ah al-Maudhu’at (II/89) oleh Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad
bin ‘Araaq al-Kinani (wafat th. 963 H)
11. Hadits:
“Siapa yang
puasa di bulan Rajab dan shalat empat rakaat…maka dia tidak akan mati sampai
dia melihat tempatnya di surga atau dia diperlihatkan.”
Taarikh hadits:
Hadits maudhu (palsu), sebagaimana
keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at,
2:124, Al Fawaid Al Majmu’ah Hal. 47.
12. Hadits
Shalat Raghaib:
“Rajab bulan
Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadhan bulan umatku… namun janganlah kalian lupa dengan malam Jumat pertama
bulan Rajab, karena malam itu adalah malam yang disebut oleh para malaikat
dengan Ar Raghaib. Dimana apabila telah berlalu sepertiga malam, tidak ada
satupun malaikat yang berada di semua lapisan langit dan bumi, kecuali mereka
berkumpul di Ka’bah dan sekitarnya. Kemudian Allah melihat kepada mereka, dan
berfirman: ‘Wahai malaikat-Ku, mintalah apa saja yang kalian inginkan.’ Maka mereka mengatakan: ‘Wahai Tuhan kami, keinginan
kami adalah agar engkau mengampuni orang yang suka puasa Rajab.’ Allah berfirman: ‘Hal itu sudah Aku lakukan.’ Kemudian Nabi ﷺ
bersabda: ‘Siapa yang berpuasa hari kamis pertama di bulan Rajab,
kemudian shalat antara maghrib sampai isya –yaitu pada malam Jumat– dua belas
rakaat…’.”
Taarikh hadits:
Kata Ibnul
Jauzi (wafat th. 597 H): “Hadits ini
palsu dan yang tertuduh memalsukannya adalah Ibnu Jahdham, mereka menuduh
sebagai pendusta. Aku telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh berkata:
“Rawi-rawi hadits tersebut adalah rawi-rawi yang majhul (tidak dikenal), aku
sudah periksa semua kitab, tetapi aku tidak dapati biografi hidup mereka.” [Al-Maudhu’at (II/125)]
Imam
adz-Dzahaby berkata: “ ’Ali bin ‘Abdullah bin Jahdham az-Zahudi, Abul Hasan
Syaikhush Shuufiyyah pengarang kitab Bahjatul Asraar dituduh memalsukan
hadits.”
Ibnu Hajar
dalam Tabyinul ‘Ajab Hal. 22 – 24,
dan As Syaukani dalam Al Fawaid Al
Majmu’ah Hal. 47 – 50
menyatakan hadits maudhu (palsu).
Bersambung
ke bag.2
والله تعالى أعلم بالحق والصواب
Referensi:
1.
Ustadz
Abu Abdillah pada laman www.salafy.or.id
2. Ustadz
Sofyan Chalid bin Idham Ruray pada WAG Taawundakwah.com [L28] yang dinukil dari
https://web.facebook.com/sofyanruray.info/videos/263739184555370/
3. Ustadz
Ammi Nur Baits pada laman https://konsultasisyariah.com/11545-hadis-dhaif-lemah-seputar-rajab.html
4. Ustadz
Yazid bin Abdul Qadir Jawas pada laman https://almanhaj.or.id/1523-hadits-hadits-palsu-tentang-keutamaan-shalat-dan-puasa-di-bulan-rajab.html
Komentar
Posting Komentar