Ketika Berdakwah
Hendaknya Disesuaikan Dengan Pendengarnya
Syaikh
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz رَحِمَهُ
اللهُ berkata,
“Para
ulama menjelaskan, bahwa mengajak manusia ke jalan Allah سبحانه و تعالى
hukumnya fardhu kifayah di negeri-negeri atau wilayah-wilayah yang sudah ada
para da’inya yang melaksanakannya. Jadi, setiap negeri dan setiap wilayah
memerlukan dakwah dan aktifitasnya, maka hukumnya fardhu kifayah jika telah ada
orang yang mencukupi pelaksanaannya sehingga menggugurkan kewajiban ini
terhadap yang lainnya dan hanya berhukum sunnah muakkadah dan sebagai suatu
amalan yang agung.
Jika
di suatu negeri atau suatu wilayah tertentu tidak ada yang melaksanakan dakwah
dengan sempurna, semuanya berdosa, dan wajib atas semuanya, yaitu atas setiap
orang untuk melaksanakan dakwah sesuai dengan kesanggupan dan kemampuannya.
Adapun secara nasional, wajib adanya segolongan yang konsisten melaksanakan
dakwah di seluruh penjuru negeri dengan menyampaikan risalah-risalah Allah dan menjelaskan
perintah-perintah Allah سبحانه و تعالى dengan berbagai cara yang bisa dilakukan,
karena Rasulullah ﷺ pun mengutus
para dai dan berkirim surat kepada para pembesar dan para raja untuk mengajak
mereka ke jalan Allah سبحانه و تعالى.”
Dalam
berdakwah, hendaknya berlemah lembut sebagaimana firman Allah تعالى,
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ
بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ
سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ
"Serulah dengan
jalan Rabb-mu dengan penuh hikmah dan peringatan yang baik dan debatlah mereka
dengan yang lebih baik. Sesungguhnya Rabb-mu, lebih tahu tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih tahu tentang orang yang mendapatkan
hidayah." [QS.
An-Nahl(16): 125]
Imam
Al Bukhari رَحِمَهُ اللهُ berkata dalam Shahihnya, Kitabul ‘Ilmi
pada Bab orang yang mengkhususkan ilmu dengan suatu kaum saja tanpa kaum yang
lain karena khawatir mereka tidak paham, beliau menukil:
“Dan
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata:
حدثوا الناس بما يعرفون أتحبون
أن يكذب الله ورسوله
‘Berbicaralah
kepada manusia sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka. Apakah kamu suka Allah
dan Rasul-Nya di dustakan?’.”
Maknanya,
Imam Bukhari رَحِمَهُ اللهُ membolehkan untuk mengkhususkan
pembicaraan suatu ilmu kepada suatu kaum tanpa keberadaan kaum yang lain. Alasannya,
kalau memang ilmu tersebut disampaikan kepada orang awam akan dipahami dengan cara
berbeda sehingga output-nya bisa
melenceng dari pemahaman yang semestinya.
Beliau
رَحِمَهُ اللهُ juga berkata,
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ
إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ
“Ia
berkata Abi (Ayahku) dari Qatadah, ia berkata, bercerita kepada kami (Anas bin
Malik) bahwa Nabi ﷺ dan Mu’adz
membonceng di belakang Nabi ﷺ. Lalu Nabi memanggil, ‘Hai
Mu’adz bin Jabal!.’ Maka Mu’adz menjawab:
لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
وَسَعْدَيْكَ: مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى
النَّارِ لا إله إلا الله محمد رسول الله إِذًا يَتَّكِلُوا لا إله إلا الله
Kemudian
Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tidak ada seorangpun yang bersyahadat, dengan penuh kejujuran dari
hatinya kecuali Allah akan haramkan dari Api Neraka.’ Lalu Mu’adz berkata: ‘Ya
Rasulullah bolehkah aku mengabarkan berita gembira ini kepada manusia?’ Kata
Rasulullah, ‘Jangan, kalau begitu mereka
tidak mau beramal, maksudnya hanya mengandalkan syahadat’.”
والله تعالى أعلم بالحق والصواب
Referensi:
1. Syaikh
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz pada laman https://almanhaj.or.id/7618-hukum-berdakwah-dan-keutamaannya.html
2. Ustadz Abu Yahya Badrusalam di laman http://dakwahmanhajsalaf.com/2019/10/aqidah-dan-manhaj-kaidah-yang-ke-41.html
3. Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di
laman https://rumaysho.com/2389-berdakwahlah-sesuai-kemampuan.html
Komentar
Posting Komentar