Hukum Menerima Bingkisan atau Hadiah Perayaan Orang Kafir

Asal mula saling memberi hadiah kepada sesama muslim maupun kepada kafir adalah mubah atau diperbolehkan karena termasuk perbuatan ma’ruf(baik). Sebagaimana firman Allah ,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” [QS. Al-Mumtahanah(60): 8]

Namun, terkait hukum menerima bingkisan dari kaum kafir, ulama membaginya menjadi 2:
1.   Boleh jika dilakukan pada hari-hari biasa.
2.   Terlarang jika dilakukan pada hari raya mereka.

Ketika menjelaskan ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ berkata,

قدمت قتيلة على ابنتها أسماء بنت أبي بكرٍ بهدايا: صناب وأقطٌ وسمنٌ، وهي مشركةٌ، فأبت أسماء أن تقبل هديتها تدخلها بيتها، فسألت عائشة النّبيّ صلّى اللّه عليه وسلّم، فأنزل اللّه، عزّ وجلّ: {لا ينهاكم اللّه عن الّذين لم يقاتلوكم في الدّين} إلى آخر الآية، فأمرها أن تقبل هديّتها، وأن تدخلها بيتها

“Qutailah datang kepada anaknya Asma’ binti Abu Bakar dengan membawa serta beberapa hadiah; Daging, keju dan minyak samin dan ia adalah seorang wanita musyrik. Maka Asma’ enggan menerima hadiah itu dan enggan menyuruhnya masuk ke dalam rumah.

Lantas ‘Aisyah bertanya kepada Nabi , maka turunlah firman Allah ta’ala ; ‘Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama..’ dst hingga akhir ayat.

Nabi lantas menuruh Asma’ untuk menerima hadiah tersebut dan menyuruhnya agar memasukkan ibunya ke dalam rumah.” [Tafsir Ibnu Katsir: 1860]

Rasulullah sendiri pernah menerima hadiah dari penguasa Mesir yang kafir sebagaimana dalam riwayat:

أهدى مقوقس القبطي لرسول الله صلى الله عليه و سلم جاريتين إحداهما أم إبراهيم بن رسول الله صلى الله عليه وسلم والأخرى وهبها رسول الله صلى الله عليه وسلم لحسان بن ثابت وهي أم عبد الرحمن بن حسان وأهدى له بغلة

“Maqauqis Al Qibthi (penguasa Mesir kala itu-pent) memberi hadiah kepada Rasulullah dua orang budak. Yang pertama Ummu Ibrahim/ibunya Ibrahim anak Nabi (namanya Maria Al Qibthi-pent) budak yang kedua beliau berikan kepada Hasan bin Tsabit, ia adalah Ummu Abdurrahman bin Hassan, dan Nabi juga diberi seekor bighal dan beliau menerimanya.” [Majma’uz Zawaaid 4/155]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid حَفِظَهُ اللهُ mengajukan beberapa syarat terkait kebolehan menerima hadiah dari orang kafir, yakni:
1. Tidak berupa hewan sembelihan yang disembelih di hari raya mereka.
2. Tidak berupa barang yang berpotensi membantu syiar agama mereka (seperti topi sinterklas misalnya-pent).
3.   Disertai penjelasan prinsip wala’ wal bara’ (loyalitas dan memusuhi) pada anak-anak kita agar mereka tidak tertipu.
4.   Misi dari menerima hadiah mereka ini adalah karena kita ingin mendakwahi orang kafir ini.
[Lihat http://islamqa.info/ar/85108]

Demi tindakan pencegahan untuk menjaga akidah, maka Lajnah ad Daa’imah berfatwa:

لا يجوز للمسلم أن يأكل مما يصنعه اليهود أو النصارى أو المشركون من الأطعمة لأعيادهم ، ولا يجوز أيضاً للمسلم أن يقبل منهم هدية من أجل عيدهم ، لما في ذلك من تكريمهم والتعاون معهم في إظهار شعائرهم وترويج بدعهم ومشاركتهم السرور أيام أعيادهم ، وقد يجرّ ذلك إلى اتخاذ أعيادهم أعياداً لنا ، أو إلى تبادل الدعوات إلى تناول الأطعمة أو الهدايا في أعيادنا وأعيادهم في الأقل ، وهذا من الفتن والابتداع في الدين ، وقد ثبت عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قال: (من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد) كما لا يجوز أن يهدى إليهم شيء من أجل عيدهم

“Tidak diperbolehkan seorang muslim memakan makanan yang dibuat oleh orang Yahudi dan Nashrani atau orang musyrik yang terkait dengan hari raya mereka. Juga seorang muslim tidak boleh menerima hadiah, jika berkaitan dengan perayaan tersebut, jika kita menerima pemberian yang berhubungan dengan hari raya mereka, itu terkategorikan bentuk memuliakan dan menolong dalam menyebarluaskan syi'ar agama mereka.

Di samping hal itu pun termasuk ikut andil mempromosikan ajaran agama mereka yang bid'ah. Dan juga ikut merasa gembira atas perayaan mereka. Cara semacam itu bisa juga dianggap menjadikan perayaan mereka sebagai bagian perayaan kaum muslimin. Mungkin awalnya mereka sebenarnya ingin mengundang kita langsung hadir, namun digantilah dengan yang lebih ringan dari itu, yakni cukup memberikan makanan atau hadiah saat mereka merayakan perayaan kegamaan itu. Ini semua termasuk musibah dan ajaran agama yang bid’ah.

Nabi bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan amalan baru yang bukan ajaran dari kami, maka amalannya tertolak.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Sebagaimana pula tidak bolehnya seorang muslim memberi hadiah kepada non muslim dalam perkara yang terkait dengan perayaan keagamaan/ritual mereka". [Fatawa Lajnah Ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ No.2882, pertanyaan kedua, XXII:398-399]

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

Referensi:
1.   https://bimbinganislam.com/hukum-meminta-angpao/
2. Ustadz Berik Said pada laman https://dakwahmanhajsalaf.com/2019/12/hukum-menerima-hadiah-natal.html
3. Ustadz Ammi Nur Baits pada laman https://konsultasisyariah.com/16502-hukum-menerima-angpao.html

Komentar