Doa Sebelum Makan
Sejak
kecil, kita telah diajarkan bahwa bacaan atau doa sebelum makan adalah,
الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ
Allahumma
Baariklanaa Fiima Razaqtana Wa Kinaa ‘Adzaabannaar.
“Ya Allah, berkatilah
rezeki yang Engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api
neraka.”
Padahal
doa ini entah dari mana asalnya. Sedangkan doa
yang shahih adalah hanya membaca basmalah.
Dari
Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا أَكَلَ أَحَدكُمْ
طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّه ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّله فَلْيَقُلْ :
بِسْمِ اللَّه فِي أَوَّله وَآخِره
“Apabila salah seorang
di antara kalian makan, maka hendaknya ia ucapkan
بِسْمِ اللَّه
‘Bismillah’.
Jika ia lupa untuk menyebutnya, hendaklah ia mengucapkan:
بِسْمِ اللَّه أَوَّله وَآخِره
Bismillaahi
awwalahu wa aakhirahu
(Dengan nama Allah pada
awal dan akhirnya).”
Takhrij hadits:
HR. Abu Dawud No.3767 dan At
Tirmidzi No.1858,
“hasan shahih”. Hadis ini memiliki penguat dari
hadis Umayyah bin Makhsyi yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dan An Nasai. [Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani,
9/521, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379]
(*)
Namun bila ingin membaca “Allahumma Baarik..” tetap diperbolehkan jika terlebih
dulu membaca basmalah.
Doa Sesudah Makan
Doa
yang umum diketahui adalah,
اَلْحَمْدُ
ِللهِ الَّذِيْنَ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Alhamdu
lillahhil-ladzi ath-amanaa wa saqaana waja'alanaa minal muslimiin
“Segala puji bagi Allah
yang memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami memeluk agama Islam.”
Entah
dari mana juga asal-usulnya. Berikut ini kami sampaikan beberapa doa setelah
makan yang sesuai sunnah:
Dari
Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ
مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang makan
makanan kemudian mengucapkan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ
مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ
‘Alhamdulillaahilladzii
ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghoiri haulin minnii wa laa quwwatin
(Segala puji bagi Allah
yang telah memberiku makanan ini, dan merezekikan kepadaku, tanpa daya serta kekuatan
dariku),
Maka diampuni dosanya
yang telah lalu.” [HSR.
Abu Dawud No.4023, Tirmidzi No.3458, Ibnu Majah No.3285, dan Ahmad (III/439),
Ibnus Sunni No.467, dan al-Hakim (I/507, IV/192). Lihat kitab Irwa-ul Ghalil No.1989. Imam Tirmidzi,
Ibnu Hajar dan ulama lainnya menghasankan hadis ini sebagaimana disetujui oleh
Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali dalam Bahjatun
Nazhirin, 2: 50]
Dari
Abu Umamah al-Bahili رضي الله عنه, ia bercerita,
أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله
عليه وسلم – كَانَ إِذَا رَفَعَ مَائِدَتَهُ قَالَ :
الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
، غَيْرَ مَكْفِىٍّ ، وَلاَ مُوَدَّعٍ وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ ، رَبَّنَا
“Nabi
ﷺ ketika
mengangkat hidangannya (artinya: selesai makan), beliau berdo’a: ‘Alhamdulillahi kastiron thoyyiban mubarokan
fiih, ghoiro makfiyyin wa laa muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu robbanaa (Segala
puji hanyalah milik Allah, yang Allah tidak butuh pada makanan dari
makhluk-Nya, yang Allah tidak mungkin ditinggalkan, dan semua tidak lepas dari
butuh pada Allah, wahai Rabb kami)’.” [HR. Bukhari No.5458, Abu Dawud
No.3849, Ahmad (V/252, 256), at-Tirmidzi No.3456, al-Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah No.2828, Ibnus Sunni
dalam kitab ‘Amalul Yaum wal Lailah
No.468 serta 484, dan lainnya]
Namun
jika hanya mengucapkan “alhamdulillah”
setelah makan juga dibolehkan, berdasarkan hadis Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ
bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ
الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ
الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
“Sesungguhnya Allah
taala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan Tahmid (Alhamdulillah)
sesudah makan dan minum.”
[HR. Muslim No.2734]
Imam
Nawawi رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Jika
seseorang mencukupkan dengan bacaan ‘Alhamdulillah’ saja, maka itu sudah
dikatakan menjalankan Sunnah.” [Syarh Shahih Muslim, 17: 46]
والله تعالى أعلم بالحق والصواب
Referensi:
1.
Ustadz
Muhammad Abduh Tuasikal pada laman http://rumaysho.com
2. Syaikh
‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani pada laman https://almanhaj.or.id/4005-adab-adab-makan-dan-minum.html
3. Jawas, Yazid bin Abdul Qadir. Doa
& Wirid - Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al-Qur’an dan as-Sunnah.
Jakarta. Penerbit: Pustaka Imam Syafi’i, 2005, cet.7.
Komentar
Posting Komentar