Dari Abu Hurairah رضي
الله عنه menceritakan bahwa
Nabi ﷺ bersabda:
من غسَّلَ الميِّتَ فليغتسِلْ ومن حَملَه فليتوضَّأ
"Barangsiapa yang telah selesai ikut memandikan jenazah,
hendaklah ia mandi dan barang siapa (sekedar) ikut mengusung jenazah, hendaklah
ia berwudhu." [HR. Turmudzi No.993, Abu Dawud No.3162,
Ibnu Majah No.1463, Ahmad II:272, at Thoyaalisi no.4231, dan lain-lain]
Ulama dari zaman dahulu telah berselisih
pendapat tentang keshahihan hadits tersebut. Di antara yang melemahkan atau mengisyaratkan
hadits tersebut baik karena kemauqufannya atau memang kelemahan sanadnya adalah:
Baihaqi dalam as Sunanul Kubra [I:303], Ibnul Qoththon dalam al Wahmu wal Iihaam [III:383], ‘Ali bin al Madaini sebagaimana
terdapat dalam as Suanaul Kubra
[I:301], Imam Ahmad sebagaimana terdapat dalam as Sunanul Kubra [I:301], Ibnu ‘Abdil Barr dalam al Istidzkaar [II:538], Ibnul Jauzi
dalam al Ilal al Mutanaahiyah
[I:374], Imam Nawawi dalam al Majmu’
[V:185], Ibnu Katsir dalam Irsyaadul
Faqih [I:69], dan lain-lain. Syaikh bin Baaz dalam Majmu’
Fatawa-nya [XXVI:208]
Adapun ulama yang menghasankan atau menshahihkan
hadits tersebut adalah:
Ibnu Taimiyyah dalam Syarhul ‘Umdah [I:362], Ibnul Hajar dalam Takhrij Misyaaktul Mashoobih [I:271], Ibnu Hazm dalam al Muhalla [II:23], Ar Ribaahi dalam Fathul Ghoffaar [I:150], As Syaukani
dalam Nailul Author [I:297], As
Shon’ani dalam Subulus Salam [I:107]
dan dalam as Sailul Jarroor [I:121],
Ibnu Hammaat ad Dimasyqi dalam at Tankiit
wal Ifaadah [77], Al Baghowi dalam Syarhus
Sunnah [I:434], namun beliau mengatakan yang bersumber dari Abu Hurairah رضي الله عنه itu mauquf pada Abu Hurairah رضي الله عنه. Syaikh al Albani dalam Shahihul Jaami’ [6402], Shahih
Abi Dawud [3161], Irwaa’ul Gholil
[144], Ahkaamul Janaa’iz [hal.71], Tamaamul Minnah [ hal.112], Takhrij Misykaatul Mashoobih [515]
Dari ulama-ulama di atas, ada yang mengatakan
hadits itu shahih mauquf (hanya perkataan Abu Hurairah رضي
الله عنه). Hal ini dikatakan
oleh Imam Baihaqi dalam as Sunanul Kubra
[I:302] yang berkata: “Hadits ini shahih (namun) mauquf pada Abu Hurairah رضي الله عنه, sebagaimana ini diisyaratkan oleh Imam
Bukhari." Ada pula yang mengatakan marfu’ (yakni benar bersambung sampai
pada Nabi ﷺ).
Kalaupun yang benar adalah mauquf (hanya
perkataan Abu Hurairah رضي الله عنه), kecil kemungkinan Abu Hurairah رضي الله عنه menyatakan ini dari hawa nafsunya sendiri.
Namun perintah mandi bagi yang telah ikut memandikan jenazah dan berwudhu bagi
yang ikut mengusung jenazah hukumnya hanya sunnah, tak sampai wajib.
Dalilnya adalah Ibnu Umar رضي الله عنه menceritakan:
كُنَّا نَغْسِلُ اْلمـَيِّتَ فَمِنَّا مَنْ يَغْتَسِلُ وَ مِنَّا مَنْ
لاَ يَغْتَسِلَ
”Kami dahulu pernah memandikan mayat, lantas di
antara kami ada yang mandi dan ada pula yang tak mandi." [HR. Baihaqi
No.1521, Daruquthni No.1796. Kata Ibnul ‘Arobi dalam ‘Aaridhatul Ahwadzi [II:L378]: "Shahih“, kata al Hafizh dalam at Talkhish [I:208]: “Shahih“, kata syaikh
al Albani dalam Ahkaamul Janaa’iz
[hal.72] dan dalam Tamaamul Minnah
[hal.121]: “Shahih“]
Dalil berikutnya adalah Ibnu Abbas رضي الله عنه pernah berkata:
لَيْسَ عَلَيْكُمْ فىِ غَسْلِ مَيِّتِكُمْ غُسْلٌ إِذَا
غَسَلْتُمُوْهُ فَإِنَّ مَيِّتَكُمْ لَيْسَ بِنَجَسٍ فَحَسْبُكُمْ أَنْ
تَغْسِلُوْا أَيْدِيَكُمْ
"Tak ada kewajiban bagi kalian untuk mandi
bagi yang telah ikut memandikan jenazah karena sesungguhnya mayat kalian itu
bukanlah najis. Maka cukup bagi kalian untuk mencuci tangan-tangan
kalian." [HR. Baihaqi dalam al Kubra No.1392, Hakim No.1466, Daruquthni
No.1815. Kata al Hafizh dalam at Talkhish
[I:207]: “Hasan“, kata Ibnul Mulaqqin dalam al
Badrul Munir [IV:658]: “Shahih atas syarat Bukhari“, kata Al Albani dalam Shahihul
Jaami [5408]: “Shahih“]
Hadits tersebut yang benar adalah mauquf pada
Ibnu Abbas رضي الله عنه, dan tidak marfu’. Atas dasar ini maka banyak
ulama menyatakan bahwa mandi bagi yang telah ikut memandikan jenazah dan
berwudhu bagi yang menggotong jenazah adalah sunnah.
Imam Malik رَحِمَهُ اللهُ berkata:
أستحب الغسل من غسل الميت ولا أرى ذلك واجبا
“Aku menyukai mandi bagi orang yang telah ikut
memandikan jenazah, namun aku berpendapat hal ini tak sampai wajib." [Sunan at Tirmidzi II:493]
Pendapat yang menyunnahkan hal ini adalah juga
pendapat dari Ibnu’ Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah, Hasan al Bashri, Ibrahim an
Nakho’i, as Syafi’i, Ahmad dan lain-lain. [Sunan
at Tirmidzi III:318]
Imam Ahmad رَحِمَهُ اللهُ berkata:
من غسل ميتا أرجو أن لا يجب عليه الغسل وأما الوضوء فأقل ما قيل فيه
“Barangsiapa yang memandikan mayat, aku berpendapat
tak wajib baginya untuk mandi, namun sekurang-kurangnya dianjurkan untuk
berwudhu." [Sunan Turmudzi
II:493]
Syaikh Al Albani رَحِمَهُ
اللهُ pun menguatkan pendapat ini dalam Ahkaamul Janaa’iz [hal.72]
والله
أعلمُ بالـصـواب
Referensi:
1.
Ustadz Berik Said pada laman http://dakwahmanhajsalaf.com/2019/06/benarkah-dianjurkan-untuk-mandi-setelah-memandikan-jenazah.html
2.
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal pada laman
https://muslim.or.id/3776-mandi-yang-disunnahkan.html
Komentar
Posting Komentar