Rasulullah ﷺ bersabda,
ليس من أمتي من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمينا حقه
"Bukan dari golongan ummatku seorang yang
tidak menghormati orang-orang tua di kalangan kami, dan tidak menyayangi
anak-anak kecil di antara kami, dan juga seorang yang tidak mengetahui hak-hak
dari ulama-ulama di antara kami." [HR. Ahmad, Thabarani, lihat Shahihul
Jami' 2:5444]
Dalam riwayat lain,
ليس من من لم يرحم صغيرنا و يعرف شرف كبيرنا
"Bukan dari golongan kami seorang yang
tidak menyayangi anak-anak kecil di antara kami, dan tidak menghormati
keutamaan orang-orang tua di antara kami." [HR. Abu Dawud, Tirmidzi]
Saat Syaikh Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah
as Sady رَحِمَهُ اللهُ menjelaskan QS. Al-Mujadilah(58): 11, beliau menutup
dengan ungkapan,
و في هذه الآية فضيلة العلم ، و أن زينته و ثمرته التأدب بآدابه و
العمل بمقتضاه
"Di dalam ayat ini terdapat penjelasan
tentang keutamaan ilmu, dan keindahan serta buah dari ilmu adalah dengan
memiliki adab dengan adab-adab ilmu serta menunaikan tuntutan-tuntutannya."
[Lihat tafsir karimir rahman fi tafsir kalami manan QS. Al-Mujadilah(58):
11]
Sehingga kekurangan dari penuntut ilmu zaman
ini adalah sedikitnya penghormatan pada ilmu dan sifatnya, sebagaimana hal
berikut:
1.
Mereka tidak wara'
ketika mengambil ilmu, yakni bermudah-mudah dalam mengambil ilmu. Padahal Imam
Ibnu Jamaah رَحِمَهُ اللهُ mengingatkan, “Seorang pencari ilmu harus
cermat dan memohon pilihan yang baik kepada Allah, tentang sosok yang diambil
ilmunya. Hendaknya ilmu diambil dari orang mumpuni ilmunya, terbukti kasih
sayangnya, terlihat kehati-hatianya (dalam fatwa), dikenal kehormatannya, dan
dikenal penjagaan dirinya.
Jika engkau melihat pada salaf dan khalaf (orang kemudian), engkau
tidak akan menjumpai manfaat yang didapat, atau keberhasilan yang dicapai
penuntut ilmu, kecuali berasal dari guru yang bertaqwa, sangat kuat dalam
petunjuk, dan memiliki kasih sayang dan ketulusan pada murid-muridnya." [Pasal
2 bab 1 kitab Tadzkiratu Sami Wa Mutakalim]
2.
Merendahkan ilmu
dari metodologi pengambilan.
Sebagian orang meninggalkan metode talaqi
(belajar di depan guru) dan mencukupkan diri dengan kitab-kitab, atau melalui
media-media radio, televisi, terutama internet.
Ibnu Jamaah رَحِمَهُ
اللهُ menasehatkan:
"Berusahalah dengan upaya keras
mencari seorang guru yang berilmu tentang syariat ini, yang ia belajar pada ulama
di zamannya, dan guru itu (atau penuntut ilmu) bukan orang yang mengambil
langsung dari kitab-kitab, dan ia tidak diketahui belajar pada ulama."
Dikatakan oleh ulama salaf:
"Termasuk bencana yang paling besar
adalah munculnya Syaikh yang lahir dari lembaran-lembaran kertas." [Dinukil
dari Al Khatib dalam Al Faqih Wal Mutafaqqih 2:97; Tadzkiratu Sami
hal. 109]
Yakni seorang yang menuntut ilmu hanya melalui
lembaran-lembaran kertas atau secara otodidak dari media-media yang ada,
kemudian disimpulkan sendiri. Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حَفِظَهُ اللهُ menjelaskan, melalui pembelajaran talaqi
manfaatnya adalah:
a) Guru dapat memperjelas isi kitab yang mungkin
dijabarkan secara umum.
b) Guru dapat meringkas ilmu.
c) Terkadang terdapat kesalahan dalam pengetikan
di kitab, sehingga guru dapat memperbaiki melalui kajian langsung.
d) Terdapat hubungan yang dekat dan positif antara
murid dan guru. Sehingga murid dapat memberikan pertanyaan secara pribadi yang
mungkin malu untuk dipertanyakan dalam keramaian (publik).
3.
Hilangnya
penghormatan murid pada guru, baik secara makna dan simbolisasi.
Seringkali kita berprasangka bahwa ilmu bisa
tidak membawa manfaat bagi pemiliknya, disebabkan sebagian besar orang,
melupakan adab-adab terhadap guru dan pembawa ilmu.
Berkata Syaikh Ali Hasan al Halaby حَفِظَهُ اللهُ:
"Ketika seorang pencari ilmu belum
memposisikan diri di depan guru, seakan tanah subur yang siap menerima air
hujan yang melimpah dan menyerapnya, maka ia belum bisa dikatakan mengambil
manfaat darinya." [Beliau menukil dari kitab Az Zubaidy berjudul Ithaf
As Saadah 315]
Mari kita contoh kemuliaan Abdullah bin
Abbas رضي الله عنه, beliau suatu hari menuntun kendaran (kuda)
Zaid bin Tsabit رضي الله عنه (yang saat itu menaikinya) lalu berkata
kepada beliau, "Seperti ini kami diperintahkan untuk bersikap terhadap ulama-ulama
kami."
Imam Ahmad رَحِمَهُ
اللهُ berkata pada Khalaf Al Ahmar:
"Kami dididik untuk merendahkan diri
di hadapan siapa saja yang kami mengambil ilmu darinya."
Berkata Imam Ghazali رَحِمَهُ اللهُ:
"Ilmu tidak akan diraih kecuali dengan
rasa tawadhu dan mencurahkan pendengaran pada sumber ilmu (guru)."
As Syu'bah رَحِمَهُ
اللهُ berkata:
"Termasuk adab ini (dalam menuntut
ilmu) adalah mengagungkan (menghormati) guru ketika bersamanya, membelanya
ketika tidak bersamanya, dan marah (bila diperlukan) untuk membela (kehormatan)
gurunya, bila tidak sanggup melakukan, ia meninggalkan majelis (yang disitu
gurunya direndahkan)." [Hilyatu Aulia 7:148]
Berkaca pada aktivitas dakwah di media
sosial, banyak dari para pencari ilmu memposisikan diri sebagai juru debat,
bahkan mengadu (domba) antar guru, dan mengeraskan kalimat (baca: merendahkan, mencela)
atas guru, dan tidak sedikitpun menjaga wibawa orang-orang yang membawa ilmu
pada mereka.
Beragam pertanyaan juga diajukan untuk
sekedar mencari tahu kadar keilmuan sang guru. Bahkan ada pula memberikan
nasihat secara terang-terangan di muka umum sehingga berpotensi menurunkan
wibawa sang guru.
Mari kita berlindung dari sifat-sifat ini dan memperbaiki
kembali adab serta akhlak dalam bermajelis dan thalabul ‘ilm. Semoga pembahasan
ini bermanfaat dan memberikan pencerahan bagi kita semua.
آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ
والله
أعلمُ بالـصـواب
Referensi:
1.
Ustadz Abu Abd Rahman
bin Muhammad Suud al Atsary dalam artikel pada laman http://dakwahmanhajsalaf.com/2019/07/yang-tertinggal-dari-penuntut-ilmu.html
2.
M. Abduh Tuasikal,
S.T., M.Sc. dan dr. M.Saifudin Hakim, M.Sc. Mahasantri. Penerbit:
Rumaysho.
Komentar
Posting Komentar