Keutamaan Orang yang Dekat dengan Al Qur’an


Rasulullah bersabda,

أهل القرآن هم أهل الله و خاصته

"Ahlul Qur’an merekalah keluarganya Allah dan orang yang spesial (khusus) di sisi-Nya." [HR. Ahmad]

Allah berfirman,

و رتل القرآن ترتيلا

"Dan bacalah Al-Quran dengan tartil." [QS. Al Muzammil(73): 4]

Maksud tartil di sini adalah membacanya dengan perlahan sesuai kaidah membaca. Syaikh Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah As Sady رَحِمَهُ اللهُ menjelaskan firman Allah di atas,

فإن ترتيل القرآن به تحصل التدبر التفكر و تحريك القلوب به و التعبد بآياته و التهيؤ و الاستعداد التام له

"Karena membaca Al-Quran secara tartil bisa mendatangkan perenungan, tafakur (pemikiran yang jernih), menggerakkan qalbu dengannya, beribadah (dengan motivasi) ayat-ayat-Nya, dan menghidupkan, serta bersiap siaga secara sempurna untuk semua itu." [Tafsir Karimir Rahman surah 73 ayat 4]

Sebelumnya, Imam Abu Fida, Muhammad bin Katsir رَحِمَهُ اللهُ berkata, "Maksudnya bacalah Al-Quran dengan tartil, sebab itu akan membantu dalam memahami dan merenungkannya." [Tafsir Quranul Adzim surah 73 ayat 4]

Rasulullah bersabda,

إقرأ و إرتق و رتل كما كنت ترتل في الدنيا فإن منزلتك عند أخر آية تقرأ بها

"Bacalah, dan naiklah, serta tartililah, sebagaimana engkau membacanya dengan tartil di dunia, karena kedudukan akhirmu (di surga) sebagaimana akhir ayat yang engkau baca darinya." [HR. Tirmidzi No.2914]

Suatu keharusan bagi seorang muslim untuk senantiasa dekat dengan Al-Quran, membaca dan mentadabburi ayat-ayatnya, membaca dengan benar sesuai kaidah bahasa dan hak huruf, kemudian memahami isi dan kandungannya, serta beramal dengannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ berkata, "Tajwid hukumnya tidak wajib (bukan satu keharusan), selama tidak terjadi lahn (kesalahan dan kelemahan dalam bacaan) di dalamnya." [Fatawa Syaikh Utsaimin 5/2]

Rasulullah bersabda,

زينوا القرآن بأصوا تكم

"Hiasilah Al-Quran dengan suaramu (ketika membaca)." [HR. Ahmad dan An-Nasa’i]

Di hadits lain di sebutkan,

ليس منا من لم يتغن بالقرآن

"Bukan golongan kami seorang yang tidak melagukan saat membaca Al-Quran." [HR. Abu Dawud]

Makna يتغن bukan bermakna nyanyian, namun menghiasi dengan suara yang baik sesuai kaidah, baik hurufnya, sisi bahasa, dan keindahan suara (merdu).

Imam An Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syarif رَحِمَهُ اللهُ berkata,

أجمع العلماء من السلف و الخلف على استحباب تحسين الصوت بالقرآن

"Telah sepakat ulama dari kalangan salaf dan kalangan kemudian (khalaf) mereka menyukai untuk memperbagus (tahsin) suara saat membaca Al-Quran." [at-Tibyan Fi Adabi Hamalati Quran 105]

Semoga kita senantiasa berdekatan dengan Al Qur’an sehingga dengannya dapat memberi syafa’at bagi kita kelak di Yaumil Qiyamah.

Rasulullah bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِه

“Bacalah al-Qur’an, karena al-Qur’an akan menjadi pemberi syafaat bagi yang membaca dan mengamalkannya pada hari kiamat nanti.” [HR. Muslim No.1910]

Bagi penghapal Al Qur’an dan mengamalkan kandungan yang terdapat di dalamnya, maka hadits dari Buraidah  رضي الله عنه, bahwa Rasulullah bersabda,

من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن

“Siapa yang membaca Qur’an, belajar dan mengamalkannya. Maka dipakaikan pada hari kiamat kepada kedua orang tuanya mahkota dari cahaya, cahayanya seperti pancaran cahaya matahari. Dipakaikan dua gelang untuk orang tuanya dimana tidak dapat dibandingkan dengan dunia seisinya. Kedua berkata, “Kenapa kita dipakaikan ini? Dikatakan, “Karena  kedua anak anda mengambil Qur’an.” [HR. Hakim 1/756]

Dan juga hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah bersabda,

يجيء القرآن يوم القيامة فيقول : يا رب حلِّه ، فيلبس تاج الكرامة ثم يقول : يا رب زِدْه ، فيلبس حلة الكرامة ، ثم يقول : يا رب ارض عنه فيرضى عنه ، فيقال له: اقرأ وارق وتزاد بكل آية حسنة

“Qur’an datang pada hari kiamat dan mengatakan, “Wahai Tuhan, pakaikanlah. Maka dia memakai mahkota karomah (kemulyaan) kemudian mengatakan, “Wahai Tuhan, tambahkanlah dia. Maka dia memakai gelang karomah (kemulyaan). Kemudian mengatakan, “Wahai Tuhan, redoilah dia, maka (Allah) meredoinya. Dikatakan kepadanya, “Bacalah dan naiklah. Ditambah setiap ayat suatu kebaikan.” [HR. Tirmizi No.2915 dan mengatakan, “Hadits ini Hasan Shoheh. Syaikh Albani mengatakan di Shoheh Tirmizi No.2328. Hasan]

والله أعلمُ بالـصـواب

Referensi:
1.   Ustadz Abu Abd rahman bin Muhammad Suud al Atsary pada artikel di laman https://dakwahmanhajsalaf.com/2019/07/keutamaan-ahlul-quran.html
2.   https://islamqa.info/id/answers/14035/keutamaan-penghafal-al-quran-di-dunia-dan-akhirat dengan pengasuh umum Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid.
3.   Ustadz dr. Raehanul Bahraen pada laman https://muslim.or.id/39291-puasa-dan-al-quran-memberikan-syafaat-dengan-izin-allah.html
4.   Ustadz Ammi Nur Baits pada laman https://konsultasisyariah.com/26373-pahala-orang-yang-menghafal-al-quran.html

Komentar