Makna, Rukun, Syarat, dan Keutamaan Haji

Pembahasan berikut ini terkait haji yang merupakan kewajiban bagi muslimin sekaligus rukun Islam kelima.

A.     Makna Haji dan Umrah

Haji berasal dari kata al hajju yang berarti menuju, dan secara umum berarti mengerjakan atau mendatangi. Makna secara istilah syar’i adalah sengaja berkunjung ke Baitullah di Mekkah untuk mengerjakan amalan-amalan khusus yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an dan As-Sunnah.

B.    Hukum Haji dan Umrah

Ibadah haji disyari’atkan bagi mereka yang Islam, baligh, berakal, merdeka, dan mampu. Sehingga hukum haji adalah wajib bagi setiap muslimin. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [QS. Ali Imran(3): 97]

Begitupun dengan sabda Rasulullah ﷺ ,

عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال : سمعت النبي صلَّى الله عليه وسلَّم يقول : بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ

Dari Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه , katanya, “Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, ‘Islam dibangun di atas lima: persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan’.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Adapun umrah, hukumnya sunnah fardhu berdasarkan firman Allah ﷻ ,

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah.” [QS. Al Baqarah(2): 196]

Dan berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ , “Haji dan umrahkan bapakmu.” [Ash Abu As-Sunan, dishahihkan Tirmidzi], ketika Beliau ﷺ ditanya oleh seseorang mengenai orang tuanya yang tidak mampu haji dan umrah dan juga berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Ibadah haji diwajibkan hanya sekali seumur hidup berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ,

خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ: – ” إِنَّ اَللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ اَلْحَجَّ ” فَقَامَ اَلْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ فَقَالَ: أَفِي كَلِّ عَامٍ يَا رَسُولَ اَللَّهِ? قَالَ: ” لَوْ قُلْتُهَا لَوَجَبَتْ, اَلْحَجُّ مَرَّةٌ, فَمَا زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ ” – رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, غَيْرَ اَلتِّرْمِذِيِّ

“Rasulullah ﷺ pernah berkhutbah di hadapan kami dan berkata, “Allah telah mewajibkan haji pada kalian.” Lantas Al Aqro’ bin Habis, ia berkata, “Apakah haji tersebut wajib setiap tahun?” Beliau ﷺ berkata, “Seandainya iya, maka akan kukatakan wajib (setiap tahun). Namun haji cuma wajib sekali. Siapa yang lebih dari sekali, maka itu hanyalah haji yang sunnah.” Dikeluarkan oleh yang lima selain Imam Tirmidzi. [HR. Abu Daud No.1721, Ibnu Majah No.2886, An Nasai No.2621, Ahmad 5: 331. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih]

C.    Rukun Haji

Adapun rukun haji adalah:
1.   Ihram
Yakni niat untuk memulai ibadah haji maupun umrah. Niat ini disertai menggunakan kain tanpa jahitan dan mengucapkan talbiyah. Macam-macam ihram:

a)  Tamattu’ adalah berihram untuk mengerjakan umrah dan haji secara terpisah namun tetap berada dalam bulan haji. Pada tanggal 8 Dzulhijjah, ia mengikuti prosesi haji sehingga dikenakan tebusan (dam) berupa menyembelih seekor kambing atau berserikat untuk sapi. Tebusan ini berlaku bagi jama’ah yang memiliki keluarga di luar Mekkah.

b)  Qiran adalah berihram dari miqat dengan niat umrah dan berniat haji saat akan tawaf. Jadi ia melakukan umrah dan haji di satu waktu atau bersamaan sehingga ia tetap dalam keadaan ihram hingga tahallul tsani. Ia juga dikenakan tebusan sebagaimana tamattu’.

c)  Ifrad adalah berihram untuk haji saja dan tetap dalam keadaan ihram sampai tahallul tsani. Ia tidak wajib membayar tebusan.

2.   Tawaf
Adalah berkeliling sebanyak 7 putaran yang dimulai dari Hajar Aswad dengan arah berlawanan arah jarum jam. Tawaf wajib dalam keadaan suci (berwudhu), menutup aurat, dan berada di luar Baitullah (Ka’bah). Dilarang tawaf di dalam Hijr Ismail karena masih merupakan bagian dari Ka’bah.

3.   Sa’i
Adalah lari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali. Hal ini untuk memberikan pelajaran kepada umat muslim mengenai beratnya perjuangan Hajar (istri nabi Ibrahim) ketika mencari air untuk Ismail anaknya. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al Baqarah(2): 158]

Dan sabda Rasulullah ﷺ, “Larilah (sa’i) kamu sekalian karena Allah telah mewajibkan sa’i atasmu.” [HR. Ahmad dan lainnya. Hadits hasan]

4.   Wukuf di Arafah
Adalah berada di Arafah dengan niat wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah dari setelah Dzuhur hingga terbit fajar hari raya Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji adalah wukuf di Arafah.” [HR. Tirmidzi No.889, an-Nasa’i No.3016 dan Ibnu Majah No.3015 , dihukumi shahih oleh Al-Albani]

D.    Syarat Wajib Haji

Beberapa syarat wajib haji adalah:
1.   Ihram dari miqat
Rasulullah ﷺ telah menetapkan tempat-tempat yang wajib dalam keadaan berihram untuk haji dan umrah menuju Mekkah:
a)  Dzulhulaifah, yakni miqat bagi penduduk atau orang-orang yang berangkat dari Madinah baik lewat jalur darat maupun udara.
b)  Juhfah, namun diganti dengan Rabigh karena kota tersebut sudah hilang (terkena banjir). Miqat ini untuk warga Mesir, Syam, dan orang-orang yang berangkat melalui tempat tersebut.
c)  Yalamlam, sekarang Sa’diyah yaitu gunung sebagai miqat penduduk Yaman dan orang-orang yang berangkat dari negara itu.
d)  Qarnut Manazil atau As-Sail, merupakan miqat penduduk Najd dan orang-orang yang melaluinya.
e)  Dzatu ‘Irqin, adalah miqat penduduk Irak dan orang-orang yang melaluinya.
f)   Sedangkan yang penduduk Mekkah, miqatnya adalah tempat tinggalnya. Jika umrah, maka miqatnya di Ji’ranah, Tan’im, dan Hudaibiyah.

Dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنه , ia berkata,

إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَقَّتَ لأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ ، وَلأَهْلِ الشَّأْمِ الْجُحْفَةَ ، وَلأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ ، وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ ، هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ ، مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ ، وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ

“Nabi ﷺ menetapkan miqat untuk penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, penduduk Syam di Juhfah, penduduk Nejd di Qarnul Manazil dan penduduk Yaman di Yalamlam. Nabi ﷺ bersabda, ‘Miqat-miqat tersebut sudah ditentukan bagi penduduk masing-masing kota tersebut dan juga bagi orang lain yang hendak melewati kota-kota tadi padahal dia bukan penduduknya namun ia ingin menunaikan ibadah haji atau umrah. Barangsiapa yang kondisinya dalam daerah miqat tersebut, maka miqatnya dari mana pun dia memulainya. Sehingga penduduk Makkah, miqatnya juga dari Makkah’.” (HR. Bukhari No.1524 dan Muslim No.1181)

2.   Wukuf di Arafah hingga Maghrib bagi yang wukuf di siang hari

Dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنه , ia berkata,

فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَذَهَبَتِ الصُّفْرَةُ قَلِيلاً حَتَّى غَابَ الْقُرْصُ

“Beliau masih terus wukuf sampai matahari tenggelam, warna kuning sedikit pergi dan bola matahari tidak kelihatan lagi.” [HR. Muslim No.1284]

3.   Mabit di Muzdalifah pada malam hari nahar (10 Dzulhijjah)

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril haram. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” [QS. Al Baqarah(2): 198]

4.   Mabit di Mina pada hari tasyriq
Rasulullah ﷺ bermalam yang dimulai dari awal atau tengah malam [Al Minhaj lii Muridil Hajj wal ‘Umrah, 133]

5.   Melempar jumrah secara berurutan
Melempar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah dan 3 jumrah pada hari tasyriq (11, 12, atau 13 Dzulhijjah -jika ingin menetap lagi di Mina-). Waktu jumrah Aqabah adalah setelah matahari terbit, sedangkan 3 jumrah lainnya dilakukan setelah waktu matahari tergelincir ke Barat (waktu zawal).

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” [QS. Al Baqarah(2): 203]

6.   Mencukur rambut (tahallul)
Rasulullah ﷺ bersabda,

وَلْيُقَصِّرْ ، وَلْيَحْلِلْ

“Pendekkanlah rambut dan bertahallul-lah.” [HR. Bukhari No.1691 dan Muslim No.1227]

Mencukur rambut boleh diakhirkan hingga hari nahar (10 Dzulhijjah). Namun jangan diundur setelah itu karena sebagian ulama mengatakan terkena dam (tebusan) (Ar Rofiq fii Rihlatil Hajj, 134-135). Bagi wanita cukup mencukur rambut sepanjang satu ruas jari.

7.   Tawaf wada’
Adalah tawaf meninggalkan Ka’bah. Bagi yang meninggalkan kewajiban ini akan dikenakan dam. Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas رضي الله عنه , Rasulullah ﷺ bersabda,

اَ يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ

“Janganlah seseorang pergi (meninggalkan Makkah), sampai akhir dari ibadah hajinya adalah thowaf di Ka’bah.” [HR. Muslim No.1327]

Ibnu Abbas رضي الله عنه juga berkata,

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ إِلاَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْمَرْأَةِ الْحَائِضِ

“Orang-orang diperintah agar akhir urusan ibadah hajinya adalah dengan thowaf di Ka’bah kecuali ada keringanan bagi wanita haidh.” [HR. Muslim No.1328]

E.     Keutamaan Haji dan Umrah

Beberapa keutamaan haji dan umrah adalah:
1.   Mengerjakan haji merupakan kewajiban manusia kepada Allah ﷻ. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Ali Imran(3) ayat 97 di atas.

2.   Haji mabrur (pelaksanaannya sesuai syari’at Rasulullah ﷺ dan diterima Allah ﷻ) akan mendapatkan jaminan surga. Dan barangsiapa yang melaksanakan satu umrah kemudian ia umrah kembali, maka ada penghapusan dosa di antara keduanya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari No.1773 dan Muslim No.1349]

3.   Barangsiapa yang berhaji tanpa berbuat maksiat dan bersikap fasik, maka ia kembali fitrah tanpa dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa melakukan haji ikhlas karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala tanpa berbuat keji dan kefasikan, maka ia kembali tanpa dosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya.” [Muttafaqun ‘Alaih]

4.   Haji merupakan tempat berkumpulnya kaum muslimin untuk saling mengenal, mencintai, dan tolong menolong.

5.   Terdapat amalan untuk shalat di Masjidil Haram, di mana shalatnya 100.000 kali lebih utama dibanding shalat di masjid lain. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنه ,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah No.1406. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173]
6.   Haji mabrur merupakan amalan paling utama ketiga setelah iman kepada Allah ﷻ dan Rasul, serta jihad fi sabilillah. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya mengenai amalan yang paling utama: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Beliau ditanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Nabi menjawab, “Jihad Fi Sabilillah.” Beliau ditanya lagi, ‘Apa lagi?’ Beliau menjawab, “Haji yang mabrur.” [Muttafaqun ‘Alaih]

7.   Sebagai penghilang kemiskinan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Hendaklah kamu iringi pelaksanaan haji itu dengan umrah, karena kedua-duanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, seperti halnya peniup api (tukang besi) melenyapkan kotoran besi, emas, dan perak. Dan haji yang mabrur tidak ada ganjarannya selain surga.” [HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasa’i. Hadits hasan]

F.     Hal yang Patut Diketahui bagi Jama’ah Haji dan Umrah

1.      Bertobat kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya dan menggunakan harta yang halal untuk kepentingan haji atu umrahnya.
2.      Menjaga ucapan kotor, adu domba, menggunjing, dan semisalnya.
3.      Niat untuk mencari ridho Allah ﷻ , bukan untuk riya’ atau pamer.
4.      Mempelajari amalan-amalan tiap rukun atau syarat wajib haji sesuai syari’at berdasarkan panduan dari pendamping haji/umrah.
5.      Jika telah sampai miqat, segera tentukan niat haji Ifrad, Tamattu’, atau Qiran. Bila membawa hewan qurban, lebih utama melakukan haji Qiran. Namun bila tidak membawa, lebih utama melakukan haji Tamattu’.
6.      Bila sedang berihram namun khawatir tidak dapat melanjutkan rangkaian haji dengan sebab uzur yang disyari’atkan, maka ketika berihram mengucapkan “Allahumma mahili haitsu hasabtani” (tempat tahallulku adalah di tempat aku tertahan)
7.      Bagi anak kecil, haji mereka sah namun belum termasuk haji fardhu.
8.      Orang yang berihram boleh mandi, membasuh kepala, dan menggaruk.
9.      Bagi wanita yang berihram, boleh menutup wajah dengan kerudung. Dilarang menggunakan cadar dan sarung tangan sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

وَلاَ تَنْتَقِبِ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ

“Wanita ihram tidak boleh memakai cadar dan tidak boleh memakai kaos tangan.” [HR. Bukhari 1838, Nasai 2693 dan yang lainnya]

Mengenakan ikat kepala di bawah kerudung, tidak ada dasarnya dalam syari’at. Ustadz Firanda Andirja حَفِظَهُ اللهُ menganjurkan untuk memasukkan berpendapat bolehnya pria menggunakan masker atau kain ihram untuk menutup wajahnya karena larangan di atas hanya berlaku pada wanita.
10.   Ketika berihram, boleh mencuci atau mengganti kain ihram.
11.   Seseorang yang mengenakan pakaian berjahit, menutupi kepala dengan suatu benda, atau memakai parfum dengan alasan lupa atau tidak tahu hukumnya, maka tidak dikenakan fidyah.
Ustadz Firanda Andirja حَفِظَهُ اللهُ mengemukakan pendapatnya bahwa menutup kepala dengan payung atau kain kemah tidak mengapa. Dasarnya adalah larangan menutup kepala yang menempel padanya seperti kain ihram dan surban. Sehingga diperbolehkan menggunakan benda yang tidak menempel pada kepala diperbolehkan.
12.   Bagi haji Tamattu’ atau umrah, hendaknya menghentikan talbiyah bila telah sampai Ka’bah dan akan memulai tawaf.
13.   Ramal (lari-lari kecil) dan idhtiba’ (kain ihram bagian atas diletakkan menutupi pundak kiri dan dilingkarkan ke bawah ketiak tangan kanan) hanya dilakukan oleh laki-laki saja sebanyak 3 putaran awal tawaf.
14.   Jika ragu jumlah putaran tawaf atau sa’i, hendaknya dihitung jumlah terkecil. Misalnya ragu sudah 2 atau 3 putaran, maka ambil keputusan telah melakukan 2 putaran.
15.   Boleh melakukan tawaf di dekat sumur zam-zam bila di area tawaf tidak menampung jama’ah. Karena Masjidil Haram semuanya adalah tempat tawaf.
16.   Ketika tawaf dilarang memakai perhiasan, wewangian, dan tidak menutup aurat. Jika tawaf sunnah, maka boleh menggunakan pakaian selain kain ihram.
17.   Wanita haid dan nifas dilarang tawaf.
18.   Ketika sa’i, cukup membaca tahmid, takbir, dan berdoa menghadap kiblat saat di bukit Shafa dan Marwah.
19.   Melafadzkan niat haji dan umrah adalah perkara bid’ah.
20.   Diharamkan bagi muslim mukallaf (dibebani syari’at/dewasa) melintasi miqat tanpa berihram bila bertujuan untuk haji atau umrah.
21.   Jama’ah yang menggunakan pesawat, hendaknya berihram di bandara keberangkatan.
22.   Bila tempat tinggalnya di daerah miqat, cukup berihram di rumahnya karena merupakan miqat baginya.
23.   Memperbanyak umrah setelah berhaji melalui Ji’ranah dan Tan’im merupakan kegiatan yang tidak ada dalilnya.
24.   Pada hari Tarwiyah, jama’ah cukup berihram dari tempat tinggalnya di Mekkah, tidak perlu di dalam kota Mekkah (di luar kediamannya meski berada di Mekkah) atau dari bawah Pancuran Emas Ka’bah seperti yang dilakukan sebagian jama’ah.
25.   Tidak perlu tawaf Wada’ ketika akan berangkat ke Mina.
26.   Berangkat dari Mina menuju Arafah (Dzulhijjah) lebih utama dilakukan setelah matahari terbit.
27.   Jika tiba di Arafah setelah matahari terbenam, maka wukuf tersebut telah cukup karena batas waktu wukuf di Arafah adalah hingga terbit fajar pada hari raya.
28.   Dilarang meninggalkan Arafah sebelum matahari tenggelam.
29.   Shalat Maghrib dan Isya’ dijama’ ta’khir qashar sesampainya di Muzdalifah dari Arafah.
30.   Memungut batu untuk jumrah. Dapat dilakukan di mana saja tidak harus Muzdalifah.
31.   Hindari mencuci batu untuk melontar karena tidak ada riwayat Rasulullah ﷺ melakukannya. Hindari penggunaan batu yang telah dipakai untuk melontar.
32.   Dilarang meninggalkan Muzdalifah sebelum pertengahan malam. Jika telah keluar namun dia enggan kembali, maka berdosa dan terkena fidyah (tebusan).
33.   Bagi yang baru tiba di Muzdalifah setelah terbit fajar di malam Idul Adha, masih mendapati shalat Subuh, dan wukuf di Arafah sebelum fajar, maka hajinya sah. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Barangsiapa yang mendapati shalat kami -yakni shalat Subuh di Muzdalifah- dan tinggal bersama-sama kami, sehingga meninggalkan Muzdalifah bersama-sama pula, dan ia telah wukuf di Arafah pada malam atau siang hari sebelumnya, maka sempurnalah hajinya dan ia telah mengerjakan apa yang dituntut dalam manasik.” [HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya. Hadits shahih]
34.   Diperbolehkan bagi wanita, anak-anak, orang sakit, dan orang tua untuk berangkat ke Mina melewati pertengahan malam.
35.   Setelah sampai di Mina pada hari raya, hendaknya menghentikan talbiyah dan melontar jumrah Aqabah dengan 7 batu berturut-turut. Ikuti petunjuk dari petugas, terkait jadwal melontar.
36.   Tidak ada syari’at untuk meninggalkan batu di tempat lontaran. Namun disyari’atkan untuk menjatuhkan batu.
37.   Tidak diwajibkan untuk mengenai dinding/tiang besar, namun wajib masuk ke lingkaran penampungan kerikil.
38.   Pendapat yang rajih, penyembelihan hewan qurban dilakukan hingga matahari terbenam pada hari tasyriq ketiga.
39.   Tawaf Ifadhah atau Ziyarah wajib dilakukan sebagai syarat sah haji. Boleh dilakukan ketika hari raya maupun ketika hari-hari Mina (tasyriq).
40.   Bagi haji Qiran dan Ifrad, hanya wajib melakukan 1 kali sa’i dan berihram hingga hari nahar.
41.   Pada hari nahar, yaitu hari di mana dimulai dengan melempar jumrah Aqabah, menyembelih qurban, tahallul, tawaf Ifadhah, dan sa’i, lebih utama melakukannya dengan tertib berurutan. Tak berurutan juga tak mengapa.
42.   Tahallul penuh dapat dilakukan setelah lempar jumrah Aqabah, memendekkan rambut, tawaf Ifadhah dan sa’i.
43.   Bila ingin keluar dari Mina tanggal 12 Dzulhijjah, maka harus sebelum matahari terbenam.
44.   Anak kecil yang tidak mampu melempar jumrah, lebih baik diwakili oleh walinya setelah ia selesai melontar untuk dirinya sendiri.
45.   Orang-orang yang lemah atau ada uzur syar’i, boleh diwakilkan untuk melempar jumrah.
46.   Bagi yang mewakili, lebih utama melontar untuk dirinya sendiri kemudian melontar untuk orang lain dan boleh berada pada satu tempat.
47.   Bagi yang melakukan haji Tamattu’ dan Qiran, yang bukan penduduk Mekkah, wajib membayar dam berupa seekor kambing atau 1/7 unta atau sapi.
48.   Bagi haji Tamattu’ dan Qiran yang tidak dapat menyembelih qurban, wajib berpuasa 3 hari selama haji atau 7 hari setelah ia kembali ke keluarganya.
49.   Puasa 3 hari tersebut hendaknya dilakukan sebelum wukuf di Arafah. Namun boleh dilakukan pada hari-hari tasyriq.
50.   Puasa 3 hari atau 7 hari tersebut boleh berturut-turut atau terpisah-pisah.
51.   Tawaf Wada’ adalah kewajiban sebagai syarat sah haji, terkecuali bagi wanita haid atau nifas.
52.   Disunnahkan berziarah ke masjid Nabawi (Madinah) khususnya makam Rasulullah ﷺ baik sebelum maupun sesudah berhaji. Bukan wajib sebagaimana pandangan orang awam. Disunnahkan juga untuk shalat di masjid Quba’, berziarah ke Baqi’ dan syuhada Uhud.
53.   Ketika di masjid Nabawi, disunnahkan memulai dengan shalat tahiyatul masjid, namun lebih utama di Raudhah. Perlu diingat bahwa ketika di Masjidil Haram (Mekkah), tidak ada tahiyatul masjid. Namun sebagai penghormatan terhadap masjid, disunnahkan tawaf.
54.   Ziarah kubur hanya disyari’atkan untuk pria dengan ketentuan tanpa bersusah payah. Hadits yang memperbolehkan ziarah ke makam Rasulullah dengan bersusah payah adalah bersanad lemah bahkan merupakan hadits-hadits palsu. [Risalah Dalilul Hajji wal ‘Umrah waz Zair Li masjidir Rasul Hal.45-54]
55.   Mengusap dinding, mencium, berdoa, mengelilingi (tawaf) kubur Rasulullah ﷺ merupakan bid’ah. Terlebih melemparkan kertas sebagai maksud mendekatkan diri kepada Beliau ﷺ merupakan kesyirikan.

G.    Beberapa Kesalahan dalam Ibadah Haji

1.   Ketika Ihram
Melewati miqat tanpa berihram hingga ke Jeddah atau tempat lainnya di daerah miqat kemudian ia ihram di tempat itu. Bagi yang melakukannya, ia wajib kembali ke miqat yang telah ditentukan dan jika tidak memungkinkan maka wajib bayar dam berupa menyembelih seekor hewan ternak.

2.   Ketika Tawaf
a)  Memulai tawaf sebelum Hajar Aswad.
b)  Tawaf dalam Hijr Ismail (wajib mengulang).
c)  Ramal (berjalan cepat) pada seluruh putaran. Padahal disyari’atkan pada 3 putaran awal saja dan itupun berlaku pada tawaf qudum.
d)  Berdesak-desakan untuk mencium Hajar Aswad.
e)  Mengusap-usap dinding Ka’bah. Rasulullah ﷺ hanya mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani.
f)   Menentukan doa khusus pada tiap tawaf.
g)  Mengeraskan suara (bacaan) saat tawaf.
h)  Berdesak-desakan untuk shalat di Hijr Ismail dan Maqam Ibrahim.

3.   Ketika Sa’i
a)  Mengangkat kedua tangan saat bertakbir dengan menghadap ke Ka’bah ketika berada di bukit Shafa dan Marwah (padahal Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangan hanya ketika berdoa).
b)  Berjalan cepat bahkan berlari di setiap putaran.

4.   Ketika di Arafah
a)  Tinggal di luar batas Arafah hingga matahari terbenam dan berangkat ke Muzdalifah di tempat itu.
b)  Meninggalkan Arafah dan berangkat ke Muzdalifah sebelum matahari terbenam.
c)  Berdesak-desakan ke gunung Arafah.
d)  Shalat di bukit/gunung Arafah (tidak ada syari’at).
e)  Menghadap gunung Arafah ketika berdoa. Padahal sunnahnya adalah menghadap kiblat.
f)   Membuat gundukan kerikil atau pasir di hari Arafah.

5.   Ketika di Muzdalifah
a)  Mengkhususkan pengambilan batu jumrah di Muzdalifah. Padahal Rasulullah ﷺ dipungutkan batu jumrah di Muzdalifah dan Mina.
b)  Mencuci batu jumrah.

6.   Ketika Melempar Jumrah
a)  Melempar batu dengan sekuat tenaga dengan anggapan bahwa yang dilempar adalah setan. Padahal Allah ﷻ mensyari’atkan semata-mata untuk berdzikir kepada-Nya.
b)  Melempar jumrah dengan selain kerikil atau batu kecil. Karena ada jama’ah menggunakan batu besar, sepatu, dan kayu.
c)  Berdesak-desakan di tempat jumrah.
d)  Melemparkan batu secara bersamaan.
e)  Mewakilkan untuk melempar namun dirinya sendiri tidak mampu atau belum melakukan lemparan.

7.   Ketika Tawaf Wada’
a)  Melakukan tawaf wada’ terlebih dulu kemudian lempar 3 jumrah (Ula, Wustha, Aqabah). Sehingga tempat terakhir perjumpaan mereka adalah tempat jumrah dan bukan Baitullah (Ka’bah).
b)  Berjalan mundur setelah selesai tawaf Wada’. (bid’ah)
c)  Ketika selesai tawaf Wada’ dan sedang berada di pintu Masjidil Haram, sebagian jama’ah menoleh ke arah Ka’bah dan mengucapkan berbagai doa. (bid’ah)

8.   Ketika Ziarah ke Masjid Nabawi
a)  Mengusap dinding dan tiang besi makam Rasulullah ﷺ dan shahabat.
b)  Ziarah ke Jabal Uhud, Jabal Tsur, Gua Hira, Jabal Rahmah dan meninggalkan coretan atau kain. (bid’ah)
c)  Ziarah ke peninggalan Rasulullah seperti tempat mendekamnya unta Beliau, sumur Utsman, sumur Katam dan mengambil pasir untuk mengharapkan berkah. (bid’ah)
d)  Memohon kepada syuhada ketika di makam Baqi’ atau Uhud.

H.    Hukum Melanggar Ketentuan yang Dilarang Selama Umrah dan Haji

Hukum bagi pelanggar ada 5 macam:
1.   Barang siapa yang melanggar salah satu dari larangan ihram, maka wajib baginya membayar fidyah yakni berpuasa selam 3 hari, atau memberi makan kepada 6 fakir miskin dengan satu mud gandum per orang, atau menyembelih seekor domba. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang qurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya. [Al Baqarah(2): 196]

2.   Jika membunuh hewan buruan, harus mengganti dengan hewan ternak seimbang dengan hewan yang dibunuh. Jika hewannya tidak ada, boleh diganti dengan uang lalu disedekahkan. Bila tidak mampu, maka berpuasa. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka'bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” [QS. Al Maidah(5): 95]

3.   Bagi mereka yang bercumbu, wajib menyembelih seekor domba.

4.   Bagi mereka yang berjima’ (bersetubuh) wajib menyembelih unta. Jika tidak mampu, maka berpuasa 10 hari. Mereka wajib menyelesaikan rangkaian haji dan mengqadha’ di tahun lain.

Sebagaimana hadits riwayat Malik dalam kitab al-Muwatta, bahwa Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Hurairah رضي الله عنهم ditanya tentang seseorang yang sedang berihram ketika haji namun bersetubuh dengan isterinya. Mereka menjawab, “Kedua-duanya harus menyelesaikan ibadah hajinya dengan benar, sesuai dengan aturan, tetapi mereka harus mengqadha’ tahun yang akan datang, dan harus menyembelih seekor unta.”

5.   Akad nikah, meminang, mengumpat, bergunjing, dan semisalnya, wajib bertobat dan istighfar.


I.       Panduan Haji, Umrah, dan Ziarah ke Masjid Nabawi

1.   Pelaksanaan Haji
a)      8 Dzulhijjah pagi, berihram dari kediaman dengan mandi terlebih dulu (bila memungkinkan), menggunakan kain ihram, serta lafadzkan talbiyah.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ

“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Catatan: Dilarang memakai wangi-wangian ketika menggunakan kain ihram. Dilarang menutup kepala sehingga dengannya menempel ke kepala. Jika dilakukan, maka wajib membayar dam.

b)      Berangkat ke Mina, shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya’ dengan diqashar bila 4 raka’at dan tanpa dijama’ baik taqdim maupun taqkhir.

c)      9 Dzulhijjah berangkat ke Arafah setelah matahari terbit. Shalat Dzuhur dan Ashar di Arafah dengan jama’ dan qashar. Perbanyak dzikir dan doa dengan menghadap kiblat hingga matahari terbenam.

d)      Setelah matahari terbenam, berangkat menuju Muzdalifah. Shalat Maghrib dan Isya’ dijama’. Bagi jama’ah yang fisiknya masih kuat, shalat Subuh tetap di Muzdalifah hingga menjelang terbit matahari. Perbanyak dzikir dan doa.

Jika memiliki fisik lemah, diperbolehkan berangkat menuju Mina selepas pertengahan malam. Sesampainya di sana, segera melempar Jumrah Aqabah. Adapun pengambilan batu bisa dilakukan di Muzdalifah maupun Mina.

e)      Menjelang terbit matahari, berjalan menuju Mina, dan sesampainya di sana, lakukan:
1)  Melempar jumrah Aqabah (paling dekat dengan Mekkah) sebanyak 7 kali lemparan batu kerikil secara bergiliran disertai takbir pada tiap lemparan.
2)  Menyembelih qurban. Wajib bagi haji Tamattu’ dan Qiran.
3)  Tahallul atau mencukur rambut. Bagi wanita cukup memotong sebagian rambut sepanjang satu ruas jari.

Catatan: Lebih utama dilakukan secara tertib berurutan, namun tak mengapa bila tidak urut dengan sebab menghindari berdesak-desakan. Setelah melakukan ketiga hal di atas, diperbolehkan berganti kain ihram dengan pakaian biasa dan segala larangan-larangan ihram tidak berlaku lagi kecuali jima’ (berhubungan badan).

f)       Berangkat ke Mekkah dan melakukan tawaf Ifadhah (tawaf haji), dilanjutkan sa’i antara Shafa dan Marwah. Selepas itu barulah bertahallul tsani (cukur habis) dan diperbolehkannya melakukan semua larangan ihram termasuk berjima’.

g)      Kembali ke Mina untuk bermalam pada malam 11 dan 12 Dzulhijjah.

h)      Pada tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah setelah matahari tergelincir ke Barat (ba’da zawal), jama’ah memulai jumrah Ula (terjauh dari Mekkah), jumrah Wustha, diakhiri jumrah Aqabah. Setiap jumrah, dilempar menggunakan 7 batu kerikil di mana setiap lemparan disertai kalimat takbir. Setelah melempar jumrah Ula dan Wustha, berdoa menghadap kiblat.

Catatan:
-     Pelontaran jumrah tidak sah bila dilakukan sebelum matahari tergelincir.
-     Waktu yang paling utama untuk melempar jumrah adalah malam 13 Dzulhijjah. Sehingga jama’ah bermalam di Mina selama 3 malam. Namun disarankan untuk mengikuti panduan dari petugas haji agar pelaksanaan lempar jumrah dapat berlangsung tertib dan tanpa hambatan.

i)       Jika telah selesai melakukan rangkaian tersebut, hendaknya meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam.

j)       Jika ingin pulang ke rumah atau negara masing-masing jama’ah, lakukan tawaf Wada’ (tawaf perpisahan) sebanyak 7 putaran kecuali bagi wanita haid dan nifas.

2.   Pelaksanaan Umrah

a)  Sebelum berihram, terlebih dulu mandi, memakai pakaian ihram dan berniat umrah saat di miqat. Disarankan untuk mengatur jadwal tawaf agar tidak berbenturan dengan jadwal shalat.
b)  Mengucapkan talbiyah umrah, “Labbaikallahumma bi’umrati.” Jika khawatir tidak dapat menyelesaikan rangkaian umrah, boleh mengucapkan, “Allahumma mahili haistu hasabtani.” (Artinya: “Ya Allah, tempat tahallulku di mana saja Engkau menahanku). Jika melakukan ini dan ia terhalang dari manasiknya, diperbolehkan tahallul dan tidak wajib membayar dam.
c)  Setelah membaca talbiyah umrah, maka dianjurkan memperbanyak talbiyah haji dengan mengeraskan suara hingga sampai di Mekkah.
d)  Jika memungkinkan, dianjurkan mandi sebelum sampai Mekkah.
e)  Masuk Masjidil Haram dengan kaki kanan disertai doa masuk masjid.
f)   Mengangkat kedua tangan ketika melihat Ka’bah seraya mengucapkan doa, “Allahumma antassalam wa minkassalam fahayyina rabbana bissalam,” atau doa-doa lain.
g)  Menuju Hajar Aswad, lalu menghadap Ka’bah sambil bertakbir atau membaca “Bismillahu Allahu Akbar,” dengan mengangkat tangan kanan.
h)  Memulai tawaf dari Hajar Aswad dan berakhir ke Hajar Aswad dengan arah berlawanan jarum jam sebanyak 7 putaran dan disunnahkan untuk berlari kecil pada 3 putaran awal.
i)    Ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad disunnahkan membaca doa,

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.” [QS. Al-Baqarah(2): 201]

j)    Dari Hajar Aswad menuju Rukun Yamani tidak ada bacaan khusus. Silakan berdoa sesuai keinginan.
k)  Setelah tawaf, diperbolehkan menutup pundaknya.
l)    Jika area tawaf lengang, disunnahkan shalat sunnah tawaf di belakang Maqam Ibrahim. Namun jika padat, cari lokasi yang sekiranya berada searah dengan maqam Ibrahim. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud’.” [QS. Al Baqarah(2): 125]

m) Setelah shalat, disunnahkan meminum air zam-zam.
n)  Kembali ke Hajar Aswad dengan bertakbir dan memberikan isyarat menggunakan tangan kanan. Jika area Ka’bah lengang, disunnahkan mengusap dan mencium Hajar Aswad.
o)  Pergi ke bukit Shafa untuk sa’i. Ketika akan mendekati Shafa, baca firman Allah ﷻ,

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al Baqarah(2): 158]

p)  Turun dari Shafa menuju Marwah.
q)  Ketika akan mendekati Marwah yang ditandai dengan lampu hijau, disunnahkan berlari-lari kecil.
r)   Tidak ada doa khusus dalam rangkaian sa’i. Silakan jama’ah berdoa sesuai yang dikehendaki.
s)   Lakukan sebanyak 7 putaran di mana perjalanan dari Shafa-Marwah dihitung 1 putaran. Sehingga putaran ke-7 berada di Marwah.
t)    Setelah sa’i, bertahallul dengan memendekkan rambut namun lebih utama mencukur gundul. Bagi wanita hendaknya mencukur sepanjang satu ruas jari.
u)  Setelah tahallul, maka selesai rangkaian umrah dan diperbolehkan melakukan larangan ihram.

3.   Ziarah ke Masjid Nabawi di Madinah Al Munawarroh

Ziarah ke masjid Nabawi sama halnya dengan memasuki masjid lain. Namun yang membedakan adalah adanya makam Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar bin Khaththab رضي الله عنهم . Shalat di masjid Nabawi memiliki keutamaan 1000 kali dibanding masjid biasa. Serta shalat tahiyatul masjid di Raudhah lebih afdhal karena merupakan tempat mustajab untuk berdoa. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku ini (masjid Nabawi) lebih baik daripada 1000 shalat di tempat lain, kecuali di Masjid Al-Haram.” [HR. Muslim No.1394]

Perhatikan adab ketika mengucapkan salam dan berdoa di depan makam Rasulullah ﷺ, yakni tidak diniatkan berdoa kepada Nabi ﷺ namun hanya kepada Allah ﷻ saja dan tidak berlama-lama di depan makam.

Demikian pembahasan singkat mengenai ibadah haji, semoga kita -khususnya penulis-, dapat memetik pelajaran darinya, dan segera diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah yang agung ini.

العَالَمِيْنَ ﺭَﺏ يَا آمِّينَ . اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ
والله أعلمُ بالـصـواب

Referensi:
1.   Abu Fatiah Al Adnani. Kunci Ibadah Lengkap: Panduan Praktis Beribadah Menurut Sunnah Rasulullah SAW Dilengkapi dengan Dzikir & Doa. Kelompok Telaah Kitab Ar-Risalah. 2005. Jakarta: Penerbit An Nur.
2.   Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal pada laman http://muslim.or.id dan http://rumaysho.com
3.   Ustadz Nur Kholis bin Kurdian pada laman https://almanhaj.or.id/4053-umrah-dan-haji-sebagai-penebus-dosa.html
4.   Ustadz Dr. Firanda Andirja Lc, MA pada laman https://firanda.com/1797-larangan-larangan-ihrom.html
5.   Laman http://tafsirweb.com
6.   Ustadz Yulian Purnama pada laman https://muslim.or.id/13474-masjid-mana-yang-lebih-utama-untuk-shalat.html

Komentar