Makna dan Hikmah Zakat

Tema pembahasan kali ini adalah zakat. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa zakat adalah rukun Islam ketiga sehingga merupakan suatu kewajiban bagi muslimin untuk menunaikannya kecuali untuk mereka yang telah dikeluarkan Allah ﷻ dari kewajiban tersebut. Sebagaimana firman-Nya,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Baqarah(2): 110]

Dan juga,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. At Taubah(9): 71]

A.     Makna Zakat

Secara bahasa, zakat bermakna suci, mulia, tumbuh, bertambah, berkah. Secara istilah, zakat berarti suatu pemberian (kelebihan dari kebutuhan hidupnya) yang wajib dikeluarkan/diberikan kepada yang berhak menerima berupa harta yang telah mencapai nisab tertentu dengan syarat-syarat tertentu. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [QS. Al Baqarah(2): 267]

B.    Hukum Bagi Orang yang Enggan Berzakat

Orang yang enggan berzakat dengan tidak mengimani kewajiban atas zakat, maka Allah ﷻ menghukumi mereka kafir. Sebagaimana firman-Nya,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” [QS. At Taubah(9): 11]

Sedangkan bagi mereka yang enggan karena pelit/bahil, sehingga mereka masih meyakini adanya kewajiban berzakat, maka berhak untuk diambil paksa hartanya dan bahkan boleh diperangi. Sebagaimana Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq  رضي الله عنه memerangi kaum muslimin yang enggan membayar zakat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.

Hal ini dilakukan Abu Bakar  رضي الله عنه sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ dari Ibnu Umar  رضي الله عنه , “Aku telah diperintahkan untuk memerangi manusia supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat, maka kalau mereka telah mengerjakannya terjagalah dari darah dan harta mereka kecuali haknya Islam dan hisab mereka di sisi Allah.” [Muttafaqun ‘Alaih]

Sedangkan ancamannya adalah Allah ﷻ akan memasukkannya ke neraka jahanam, seperti dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ  يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” [QS. At Taubah(9): 34-35]

Begitupun dengan hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه , bahwa Nabi ﷺ bersabda,

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمَ القِيَامَةِ صُفِحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ، فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ، فَيُكْوَى بِهَا جَبْهَتُهُ وَجَنْبُهُ وَظَهْرُهُ، كُلَّمَا بَرُدَتْ أُعِيْدَتْ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَان مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ، فَيَرَى سَبِيْلَهُ إِمَّا إِلَى الجَنَّةِ، وَإِمَّا إِلَى النَّارِ

“Siapa saja yang memiliki emas atau perak tapi tidak mengeluarkan zakatnya melainkan pada hari kiamat nanti akan disepuh untuknya lempengan dari api neraka, lalu dipanaskan dalam api neraka Jahannam, lalu disetrika dahi, rusuk dan punggungnya dengan lempengan tersebut. Setiap kali dingin akan disepuh lagi dan disetrikakan kembali kepadanya pada hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun. Kemudian ia melihat tempat kembalinya apakah ke surga atau ke neraka.” [HR. Ahmad dan Muslim No.987]

C.    Hikmah Disyari’atkannya Zakat

Diantara hikmat disyari’atkannya zakat adalah:
1.   Membersihkan jiwa.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. At Taubah(9): 103]

2.   Mencukupi orang muslim yang fakir sehingga menutupi kebutuhannya, menghibur, dan memuliakannya agar terhindar dari sikap meminta-minta kepada selain Allah ﷻ.
3.   Sebagai perbekalan bagi pasukan Islam yang berperang di jalan Allah ﷻ.
4.   Membantu musafir dalam hal perbekalan sehingga mencukupinya selama perjalanan.
5.   Meringankan beban kaum muslim atau orang miskin yang sedang terlilit hutang.
6.   Dapat mengokohkan iman para wajib maupun penerima zakat.
7.   Meminimalisir harta orang-orang kaya agar harta benda tersebar merata dan tidak dimonopoli mereka.
8.   Membersihkan dan menyucikan harta dari hal yang haram.
9.   Menegakkan kemaslahatan umum.

D.    Manfaat Membayar Zakat

1.   Sebagai realisasi dari perintah Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ.
2.   Berlipatgandanya pahala amal perbuatan.
3.   Sedekah merupakan petunjuk kepada keimanan. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Shadaqah adalah burhan (petunjuk).” [HR. Muslim]
4.   Membersihkan diri dari dosa.
5.   Dapat mengembangkan harta dan menghindarkan diri dari cinta akan dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan.” [HR. Muslim]. Dan juga firman Allah ﷻ,

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” [QS. Saba’(13): 39]

6.   Mendapatkan naungan dari sedekahnya di hari kiamat.
7.   Sedekah merupakan sebab turunnya rahmat Allah ﷻ. Sebagaimana firman-Nya,

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ ۚ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ ۖ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: ‘Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami’.” [QS. Al A’raf(7): 156)

E.     Orang yang Berkewajiban Zakat

Adapun syarat wajib zakat adalah sebagai berikut:
1.   Islam.
2.   Merdeka.
3.   Telah mencapai nisab.
4.   Harta telah dimiliki dalam setahun penuh berdasarkan kalender bulan Qomariyah atau tahun Hijriah. Kecuali terhadap hasil pertanian atau perkebunan (buah-buahan) yang disyari’atkan tiap kali panen. Misalnya pada tanggal  2 Dzulqa’dah, seseorang telah melampau batas nisab, maka perhitungan 1 tahunnya adalah pada tanggal yang sama di tahun berikutnya. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” [QS. Al An’am(6): 141]

5.   Harta wajib terlepas dari hutang secara sebagian atau keseluruhan dan tidak berpotensi akan adanya tuntutan dari orang lain.

F.     Orang yang Berhak Mendapatkan Zakat

Para penerima zakat telah ditetapkan Allah ﷻ dalam firman-Nya,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS. At Taubah(9): 60]

Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerima zakat adalah:
1.   Orang fakir. Adalah orang yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

2.   Orang miskin. Adalah orang yang telah bekerja namun masih kekurangan. Sehingga orang fakir lebih diutamakan dibanding miskin. Sebagian ulama berfatwa bahwa zakat bagi fakir dan miskin adalah selama setahun dengan dalil bahwa kewajiban berzakat adalah setahun sekali.

3.   Amil zakat. Merupakan orang yang ditunjuk oleh wajib zakat untuk mengurus zakat, mulai dari mengumpulkan, menjaga, dan menyebarkannya.

Dan perlu dipahami bahwa amil zakat ini memungut zakat dengan mendatangi wajib zakat, jadi tidak perlu mereka mendatangi amil zakat. Sebagaimana hadits dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah, ‘Tidak boleh diambil zakat mereka, melainkan di kampung-kampung mereka’.” [HR. Ahmad dan Abu Dawud]

4.   Muallaf. Adalah orang yang baru masuk Islam. Dengan diberikan zakat kepadanya diharapkan dapat memperkokoh imannya. Zakat juga dapat diberikan kepada kafir yang berpotensi untuk masuk Islam atau setidaknya melindungi kaum muslimin dari penindasan.

Hal ini pernah terjadi pada zaman Rasulullah ﷺ yang memberi zakat kepada Sufwan bin Umayyah dari hasil ghanimah perang Hunain. [HR. Muslim]

5.   Budak. Hal ini penting mengingat untuk memerdekakan mereka sehingga meminimalisir potensi murtad atau dibunuh majikan yang kafir.

6.   Orang yang terlilit hutang (Gharimun). Orang yang memiliki hutang dan dituntut untuk segera melunasinya. Baik berhutang untuk kemaslahatan umat seperti untuk menafkahi, merusakkan barang orang lain tanpa sengaja, maupun berhutang untuk kepentingan orang lain seperti untuk memperbaiki hubungan.

Zakat dapat juga diberikan kepada orang yang telah meninggal namun masih memiliki tanggungan hutang.

7.   Fi Sabilillah. Adalah berjuang di jalan Allah ﷻ tanpa mendapat bantuan pemerintah, seperti para relawan perang (bukan lembaga sosial), pemikir Islam yang berjuang menahan kritenisasi, sekte-sekte menyimpang, maupun para propagandis.

8.   Ibnu sabil (musafir). Adalah orang yang bepergian ke luar negeri dengan syarat tidak bertujuan maksiat dan tidak ada yang memberikan pinjaman padanya.

Catatan:
a)  Dalam pengambilan zakat, baik fakir maupun miskin haruslah seorang muslim dan bukan keturunan Bani Hasyim, bukan pula orang yang masih dalam tanggungan wajib zakat (orang tua, istri, anak), serta tidak pula diperuntukkan kepada mereka yang masih kuat dan mampu bekerja. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ, “Tidak ada jatah zakat bagi orang kaya dan orang yang kuat serta mampu bekerja.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An Nasa’i serta dishahihkan oleh Muhaqqiq kitab Jami’ul Ushul]

b)  Keturunan Bani Hasyim atau keturunan Rasulullah ﷺ tidak berhak mendapatkan zakat sesuai sabda Rasulullah ﷺ dari Al-Muthallib bin Rabi’ah رضي الله عنه , “Sesungguhnya shadaqah itu tidak layak diperuntukkan bagi keluarga Muhammad.” [HR. Muslim secara marfu’]

Dan juga sabda Rasulullah ﷺ,

فِي كُلِّ سَائِمَةِ إِبِلٍ فِي أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ وَلَا يُفَرَّقُ إِبِلٌ عَنْ حِسَابِهَا مَنْ أَعْطَاهَا مُؤْتَجِرًا قَالَ ابْنُ الْعَلَاءِ مُؤْتَجِرًا بِهَا فَلَهُ أَجْرُهَا وَمَنْ مَنَعَهَا فَإِنَّا آخِذُوهَا وَشَطْرَ مَالِهِ عَزْمَةً مِنْ عَزَمَاتِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لِآلِ مُحَمَّدٍ مِنْهَا شَيْءٌ

“Pada unta yang digembalakan dari setiap 40 ekor, (zakatnya berupa) ibnatu labun (berumur 2 tahun dan memasuki tahun ke-3). Tidak boleh unta dipisahkan dari hitungannya. Barangsiapa memberikannya (zakat) untuk mencari pahala, maka dia mendapatkan pahalanya. Dan barangsiapa menahannya, maka sesungguhnya kami akan mengambilnya dan separuh hartanya, sebagai kewajiban dari kewajiban-kewajiban Rabb kami. Tidak halal bagi keluarga Muhammad sesuatu darinya (zakat)”. [HR Abu Dawud; Nasai; Ahmad; dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’us Shaghir, no. 4265.]

c)  Yang dimaksud keluarga Bani Hasyim meliputi keluarga Rasulullah ﷺ, Ali bin Abi Thalib, ‘Uqail, Ja’far, Abbas, dan keluarga Harits. Sebagian ulama memperbolehkan dengan syarat benar-benar membutuhkan namun tidak ada satupun kerabat yang memberikan bantuan.

d)  Tidak boleh memindahkan zakat ke negara lain yang berjarak ukuran boleh qashar atau lebih dari itu kecuali untuk kepentingan darurat.

e)  Seorang istri boleh memberikan zakat kepada suaminya. Sebagaimana hadits dari Abu Said Al-Khudri رضي الله عنه bahwa Zainab istri Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata, “Ya Nabi Allah, hari ini engkau menyuruh untuk mengeluarkan sedekah, saya mempunyai perhiasan yang ingin saya sedekahkan. Tetapi menurut anggapan Ibnu Mas’ud, ia dan anaknya adalah orang yang lebih berhak menerima sedekah dari saya itu.” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Benarlah apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud, suamimu dan anakmu adalah orang yang paling berhak menerima sedekah darimu.” [HR. Bukhari]

f)   Zakat tidak boleh diberikan kepada orang fasik (mengejek syari’at Islam dan tidak shalat), kafir (ashliy -menindas muslim- dan murtad), serta ateis.

g)  Zakat diwajibkan atas emas, perak, mata uang (alat tukar semisal uang, hewan ternak, tumbuh-tumbuhan), perhiasan yang dipinjam, dan semisalnya.

h)  Tidak dikenakan zakat pada harta yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti mobil, rumah,pakaian, dan semisalnya.

G.    Jenis Harta yang Wajib Dizakati

Sebagian ulama ada yang membagi menjadi 3, yakni emas dan perak, hewan ternak serta hasil pertanian (padi, gandum) dan perkebunan (kurma dan anggur kering). Sebagian ulama lain membagi menjadi 4. (Syarah Arkanul Islam wal Iman: 120-121)
1.   Harta yang keluar dari perut bumi semisal biji-bijian dan buah-buahan.
2.   Emas, perak, dan uang.
3.   Komoditi dagang (‘urudhut tijarah), yaitu semua harta yang digunakan untuk berdagang dan usaha. Seperti makanan, minuman, kendaraan, dan sebagainya. Nilai zakat yang dikeluarkan adalah 5 %. Jika sulit untuk menilai harta yang ada dalam toko atau dealer dan sejenisnya, maka dikira-kira saja.
4.   Hewan ternak yang digembalakan dan dimanfaatkan susu dan dagingnya.

Syaikh Shalih bin Abdillah Al Fauzan  حَفِظَهُ اللهُ menyatakan, “Diwajibkan zakat pada hasil perkebunan seperti kurma, anggur kering dan sejenisnya dari semua yang ditakar dan dapat disimpan lama (iddikhar).” Selain buah-buahan di atas, maka tidak terkena wajib zakat. 

H.    Harta yang Tidak Wajib Dizakati

1.   Buah-buahan dan sayuran. Karena tidak ada dalil syar’i yang mewajibkan.
2.   Budak belian, kuda, keledai, dan bighal (peranakan kuda dan keledai).
3.   Harta yang tidak mencapai nisab.
4.   Barang-barang untuk hiasan atau sekedar dipakai, contohnya permadani, perhiasan (zamrud, berlian, intan, cincin, dan semisalnya). Namun bila ada kepentingan untuk diperdagangkan, maka terkena wajib zakat.

Dari Abdullah bin Syadad bin Hadi رضي الله عنه , ia berkata,

دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَى فِي يَدَيَّ فَتَخَاتٍ مِنْ وَرِقٍ فَقَالَ مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ فَقُلْتُ صَنَعْتُهُنَّ أَتَزَيَّنُ لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَتُؤَدِّينَ زَكَاتَهُنَّ قُلْتُ لَا أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ قَالَ هُوَ حَسْبُكِ مِنَ النَّارِ

“Kami masuk menemui Aisyah, istri Rasulullah ﷺ, lalu beliau berkata,  ‘Rasulullah ﷺ masuk menemuiku lalu beliau melihat di tanganku beberapa cincin dari perak, lalu Beliau bertanya, ‘Apakah ini wahai Aisyah?’ Aku pun menjawab, ‘Saya memakainya demi berhias untukmu wahai Rasulullah.’ Lalu Beliau bertanya lagi, ‘Apakah sudah engkau keluarkan zakatnya?’, ‘Belum’, jawabku. Rasulullah ﷺ lantas bersabda, ‘Cukuplah itu untuk memasukkanmu dalam api neraka’.” [HR. Abu Daud no. 1565. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

I.       Syarat Nisab Harta dan Kadar Wajib Zakat Mal

1.   Emas, perak, dan yang semakna dengannya
Yang termasuk dalam jenis ini adalah emas, perak, gabungan antara emas dan perak, kertas berharga (cek, giro, uang, dll), barang dagangan dari emas/perak, piutang, rikaz (peninggalan berharga yang tidak diketahui pemiliknya), dan barang galian seperti logam, tembaga, dsb.

2.   Hewan ternak
Hewan ternak yang masuk dalam jenis ini adalah unta, sapi, domba/kambing. Untuk unta, nisabnya adalah di atas 5 ekor sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Tidak ada kewajiban shadaqah di bawah 5 ekor unta.” [Muttafaqun ‘Alaih]

3.   Hasil pertanian dan perkebunan
Nisab keduanya adalah 5 wasaq sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Tidak ada wajib zakat dalam ukuran kurang dari 5 wasaq.” [Muttafaqun ‘Alaih]

1 wasaq sama dengan 60 sha’ dan 1 sha’ adalah 4 mud (raupan kedua tangan orang dewasa). Sehingga, bila sekali raupan menghasilkan 625 gr, maka 1 sha’ adalah 2,5 kg. Total nisab adalah 5 wasaq x 60 sha’ x 2,5 kg = 750 kg.

Sedangkan kadar wajib keduanya bila menggunakan mata air atau air yang mengalir (irigasi, sungai, dan semisalnya), adalah 10%. Namun bila pengairan menggunakan alat (ember, pompa, dan semisalnya), kadar wajib zakatnya adalah 5%.  





Catatan: Tidak ada zakat gaji penghasilan/profesi berdasarkan fatwa Lajnah Da’imah. Namun jika terdapat kelebihan gaji kemudian ia kumpulkan hingga mencapai nisab dan tidak berkurang selama 1 tahun, maka wajib berzakat sesuai jenis nomor 1 di atas.

J.     Zakat Fitri

Adalah zakat yang wajib ditunaikan setelah berpuasa Ramadhan.

1.   Hukum zakat fitri

Hukumnya wajib atas muslim. Hal ini berdasarkan ucapan Ibnu Umar رضي الله عنه , “Bahwasannya Rasulullah ﷺ telah mewajibkan zakat fitrah dari (puasa) Ramadhan sebanyak satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum atas hamba dan orang merdeka, laki-laki dan wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin.” [Muttafaqun ‘Alaih]

2.   Hikmah zakat fitri

a)  Menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan dan perkataan kotor yang mungkin dilakukan selama berpuasa.
b)  Mencukupi orang fakir dan miskin dari meminta-minta di saat Idul Fitri. Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata, “Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitri untuk membersihkan orang yang berpuasa, perbuatan dan perkataan keji dan kotor dan untuk memberi makan orang-orang miskin.” [HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya. Hadits hasan]

3.   Ukuran dan jenis makanan yang dikeluarkan
Ukuran zakat fitri adalah satu sha’ atau sama dengan empat mud, di mana satu mud sama dengan satu genggam kedua telapak tangan orang dewasa. Mudahnya adalah 2,5-3 kg.

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ – رضى الله عنه – قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ فِى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ . وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالأَقِطُ وَالتَّمْرُ

Dari Abu Sa’id Al Khudri رضى الله عنه , ia berkata, “Dahulu kami mengeluarkan zakat fithri di masa Rasulullah ﷺ pada hari Idul Fithri dengan satu sho’ makanan.” Abu Sa’id berkata, “Dahulu yang menjadi makanan kami adalah gandum, anggur, keju dan kurma.” [HR. Bukhari no. 1510]

Setiap yang menjadi makanan pokok bisa digunakan untuk zakat fitrah, seperti di negeri kita dengan beras. Empat makanan yang disebutkan di atas bukanlah batasan karena makanan tersebut menjadi makanan orang banyak di masa Nabi ﷺ.

4.   Waktu zakat fitri
Zakat fitri boleh (jawaz) dilakukan pada 1-2 hari menjelang hari raya. Hal ini dilakukan Ibnu Umar رضي الله عنه dan beberapa shahabat lain. Waktu ada’ (pelaksanaan) dan lebih afdal adalah sejak terbit fajar hari raya hingga beberapa saat menjelang shalat Ied.

عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ اَلْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى اَلْعَبْدِ وَالْحُرِّ, وَالذَّكَرِ, وَالْأُنْثَى, وَالصَّغِيرِ, وَالْكَبِيرِ, مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ اَلنَّاسِ إِلَى اَلصَّلَاةِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Dari Ibnu Umar رضي الله عنه , ia berkata, “Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi hamba dan yang merdeka, bagi laki-laki dan perempuan, bagi anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat tersebut ditunaikan sebelum manusia berangkat menuju shalat ‘ied.” [Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari No.1503 dan Muslim No.984]

5.   Penerima zakat fitri
Yang berhak untuk menerima zakat fitri adalah sama halnya dengan penerima zakat yang telah diuraikan di atas.


Demikian pembahasan tentang zakat, semoga memberikan ilmu yang bermanfaat bagi kita khususnya penulis.

العَالَمِيْنَ ﺭَﺏ يَا آمِّينَ . اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ
والله أعلمُ بالـصـواب

Referensi:
1.   Abu Fatiah Al Adnani. Kunci Ibadah Lengkap: Panduan Praktis Beribadah Menurut Sunnah Rasulullah SAW Dilengkapi dengan Dzikir & Doa. Kelompok Telaah Kitab Ar-Risalah. 2005. Jakarta: Penerbit An Nur.
2.   Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari dalam laman https://almanhaj.or.id/2653-ancaman-meninggalkan-zakat.html
3.   Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dalam laman https://muslim.or.id/9435-panduan-zakat-5-adakah-zakat-pada-perhiasan.html dan https://rumaysho.com/3519-zakat-fitrah-dengan-beras-bukan-dengan-uang.html
4.   Ibnu Hajr Al Asqalani. Bulughul Maraam. Penerjemah: A. Hassan. 1991. Bangil: Pustaka Tamaam.
5.   Laman http://tafsirweb.com

Komentar