Pertanyaan:
Bagaimanakah proses munculnya pembagian atas
tauhid menjadi 3?
Jawaban:
Tauhid terbagi menjadi 3 (Rububiyyah, Uluhiyyah,
dan Asma’ wa Sifat) berdasarkan istiqra’ (penelitian menyeluruh) para
ulama terhadap dalil-dalil yang ada pada Al-Quran dan As-Sunnah. Sebagaimana
ulama nahwu membagi kalimat di dalam bahasa arab menjadi 3, yakni Isim, fi’il,
dan huruf, berdasarkan penelitian menyeluruh terhadap kalimat-kalimat yang ada
di dalam bahasa Arab. [Kitab At-Tahdzir min Mukhtasharat Muhammad
Ash-Shabuny fii At-Tafsir karangan Syeikh Bakr Abu Zaid hal: 30, cet. Darur
Rayah- Riyadh]
Di antara dalil-dalil tauhid rububiyyah
(pengesaan Allah ﷻ dalam penciptaan, pembagian rezeki, dan
pengaturan alam), yakni firman Allah ﷻ,
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
“Allah menciptakan segala sesuatu.” [QS. Az-Zumar(39): 62]
Begitupun firman Allah ﷻ,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi
melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam
binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang
nyata (Lauh Mahfuzh).” [QS. Huud(11): 6]
Dan firman Allah ﷻ,
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ
السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ
الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ
أَفَلا تَتَّقُونَ
“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki
kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan)
pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari
yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang
mengatur segala urusan?’ Maka mereka menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa
kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’” [QS. Yunus(10): 31]
Di antara dalil-dalil tauhid uluhiyyah
(pengesaan Allah ﷻ di dalam ibadah) adalah:
Firman Allah ﷻ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya
kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” [QS. Al-Fatihah(1):
5]
Begitupun firman Allah ﷻ,
قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَهُ دِينِي
“Katakanlah: “Hanya Allah saja yang aku sembah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” [QS. Az-Zumar(39): 14]
Dan firman Allah ﷻ,
قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا
الْجَاهِلُونَ
“Katakanlah: “Maka apakah kamu menyuruh aku
menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?” [QS. Az-Zumar(39): 64]
Di antara dalil-dalil tauhid asma’ wa sifat
(pengesaan Allah ﷻ di dalam nama-namanya yang husna
(terbaik) dan sifat-sifat-Nya yang tinggi) adalah:
Firman Allah ﷻ,
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيّاً مَا تَدْعُوا
فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah
Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna
(nama-nama yang terbaik).” [QS. Al-Isra’(17): 110]
Begitupun firman Allah ﷻ,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia,
dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS. Asy-Syura(42): 11]
Dan firman Allah ﷻ,
وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dan Allah mempunyai permisalan yang paling
tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. An-Nahl(16): 60]
Terkumpul 3 jenis tauhid ini di dalam sebuah firman
Allah ﷻ,
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ
وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً
“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan
apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah
dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan
Dia (yang patut disembah).” [QS. Maryam(19): 65]
Tauhid rububiyyah tercantum dalam firman-Nya:
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا
“(Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan
apa-apa yang ada di antara keduanya).”
Tauhid uluhiyyah tercantum dalam firman-Nya,
فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ
“Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam
beribadat kepada-Nya).“
Tauhid Asma’ wa Sifat tercantum dalam firman-Nya,
هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً
“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan
Dia (yang patut disembah)?”
Di antara ulama-ulama yang menyebutkan
pembagian ini secara jelas maupun isyarat, adalah:
1.
Imam Abu Ja’far
Ath-Thahawy رَحِمَهُ اللهُ (wafat th. 321). Beliau berkata:
نقول في توحيد الله معتقدين بتوفيق الله إن الله
واحد لا شريك له ، و لا شيء مثله ، و لا شيء يعجزه ، و لا إله غيره
“Kami mengatakan di dalam pengesaan
kepada Allah dengan meyakini: bahwa Allah satu tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak
ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang melemahkan-Nya, dan tidak ada tuhan
yang berhak disembah selain-Nya.” [Muqaddimah dalam kitab Al-Aqidah
Ath-Thahawiyyah]
Perkataan beliau, “Tidak ada yang serupa
dengan-Nya” merupakan tauhid Asma’ dan Sifat.
Perkataan beliau, “Tidak ada yang
melemahkan-Nya” termasuk tauhid Rububiyyah.
Perkataan beliau, “Dan tidak ada tuhan yang
berhak disembah selain-Nya” merupakan tauhid Uluhiyyah.
2.
Ibnu Abi Zaid
Al-Qairawany Al-Maliky رَحِمَهُ اللهُ (wafat th. 386 H) mengatakan,
من ذلك : الإيمان بالقلب و النطق باللسان بأن
الله إله واحد لا إله غيره ، و لا شبيه له و لا نظير، … ، خالقا لكل شيء ، ألا هو
رب العباد و رب أعمالهم والمقدر لحركاتهم و آجالهم
“Termasuk diantaranya adalah beriman
dengan hati dan mengucapkan dengan lisan bahwasanya Allah adalah sesembahan
yang satu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada yang
serupa dengan-Nya dan tidak ada tandingan-Nya. Pencipta segala sesuatu,
ketahuilah bahwa Dia adalah pencipta hamba-hamba-Nya dan pencipta amalan-amalan
mereka, dan yang menakdirkan gerakan-gerakan mereka dan ajal-ajal mereka.” [Muqaddimah
kitab Ar-Risalah Al-Fiqhiyyah hal. 75 cet. Darul Gharb Al-Islamy]
Perkataan beliau, “Sesembahan yang satu,
tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia” merupakan tauhid Uluhiyyah.
Perkataan beliau, “Tidak ada yang serupa
dengan-Nya dan tidak ada tandingan-Nya” termasuk tauhid Asma’ wa Sifat.
Perkataan beliau, “Pencipta segala
sesuatu, ketahuilah bahwa Dia adalah pencipta hamba-hamba-Nya dan pencipta
amalan-amalan mereka, dan yang menakdirkan gerakan-gerakan mereka dan ajal-ajal
mereka” merupakan tauhid Rubiyyah.
3.
Ibnu Baththah
Al-‘Akbary رَحِمَهُ اللهُ (wafat th. 387 H) mengatakan,
وذلك أن أصل الإيمان بالله الذي يجب على الخلق
اعتقاده في إثبات الإيمان به ثلاثة أشياء : أحدها : أن يعتقد العبد ربانيته ليكون
بذلك مباينا لمذهب أهل التعطيل الذين لا يثبتون صانعا . الثاني : أن يعتقد
وحدانيته ، ليكون مباينا بذلك مذاهب أهل الشرك الذين أقروا بالصانع وأشركوا معه في
العبادة غيره . والثالث : أن يعتقده موصوفا بالصفات التي لا يجوز إلا أن يكون
موصوفا بها من العلم والقدرة والحكمة وسائر ما وصف به نفسه في كتابه
“Dan yang demikian itu karena pokok
keimanan kepada Allah yang wajib atas para makhluk untuk meyakininya di dalam
menetapkan keimanan kepada-Nya ada 3 perkara:
Pertama: Hendaklah seorang hamba meyakini
rabbaniyyah Allah (kekuasaan Allah) supaya dia membedakan diri dari jalan
orang-orang atheisme yang mereka tidak menetapkan adanya pencipta.
Kedua: Hendaklah meyakini wahdaniyyah
Allah (keesaan Allah dalam peribadatan) supaya dia membedakan diri dari jalan
orang-orang musyrik yang mereka mengakui adanya pencipta alam kemudian mereka
menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.
Ketiga: Hendaklah meyakini bahwasanya Dia
bersifat dengan sifat-sifat yang memang harus Dia miliki, seperti ilmu, qudrah
(kekuasaan), hikmah (kebijaksanaan), dan sifat-sifat yang lain yang Dia
tetapkan di dalam kitab-Nya.
[Kitab Al-Ibanah ‘an Syariatil
Firqatin Najiyyah wa Mujanabatil Firaq Al-Madzmumah (5 / 475)]
4.
Abu Bakr Muhammad
bin Al-Walid Ath-Thurthusyi رَحِمَهُ اللهُ (wafat th. 520 H) berkata,
وأشهد له بالربوبية والوحدانية. وبما شهد به
لنفسه من الأسماء الحسنى. والصفات العلى. والنعت الأوفى
“Dan aku bersaksi atas rububiyyah-Nya dan
uluhiyyah-Nya, dan atas apa-apa yang Dia bersaksi atasnya untuk dirinya berupa
nama-nama yang paling baik dan sifat-sifat yang tinggi dan sempurna.” [Muqaddimah
pada kitab Sirajul Muluk (1/1)]
5.
Al-Qurthuby رَحِمَهُ اللهُ (wafat th. 671 H), beliau berkata ketika
menafsirkan lafdzul jalalah (الله) di dalam Al-Fatihah:
فالله اسم للموجود الحق الجامع لصفات الإلهية،
المنعوت بنعوت الربوبية، المنفرد بالوجود الحقيقي، لا إله إلا هو سبحانه
“Maka ( الله ) adalah nama untuk sesuatu yang
benar-benar ada, yang mengumpulkan sifat-sifat ilahiyyah (sifat-sifat sesuatu
yang berhak disembah), yang bersifat dengan sifat-sifat rububiyyah (sifat-sifat
sesuatu yang berkuasa), yang sendiri dengan keberadaan yang sebenarnya, tidak
ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya.” [Tafsir Al Qurthuby 1/ 102]
6.
Syeikh Muhammad
Al-Amin Asy-Syinqithy رَحِمَهُ اللهُ (wafat th. 1393 H) di dalam Adhwaul
Bayan (3/111-112), ketika menafsirkan ayat,
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ
أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ
لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً) (الاسراء:9)
7.
Syeikh Abdul Aziz
bin Abdillah bin Baz رَحِمَهُ اللهُ, dalam kitab Kaifa Nuhaqqiqu At-Tauhid
hal.18-28.
8.
Syeikh Muhammad bin Shaleh
Al-Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ, dalam Fatawa Arkanil Islam hal.9-17.
9.
Syeikh Abdul Muhsin
bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr (pengajar di Masjid Nabawi), dalam muqaddimah ta’liq
beliau terhadap kitab Tathhir ul I’tiqad ‘an Adranil Ilhad karangan
Ash-Shan’any dan kitab Syarhush Shudur fi Tahrim Raf’il Qubur karangan
Asy-Syaukany hal.12-20.
10.
Syeikh Abdul Aziz
Ar-Rasyid, di dalam kitab At-Tanbihat As-Saniyyah ‘ala Al-Aqidah
Al-Wasithiyyah hal.14.
11.
Syeikh Abdurrazaq
bin Abdul Muhsin Al-Badr حَفِظَهُ اللهُ, di dalam kitab Al-Mukhtashar
Al-Mufid fi Bayani Dalaili Aqsamit Tauhid. Kitab ini adalah bantahan atas
orang yang mengingkari pembagian tauhid.
والله أعلمُ بالـصـواب
Referensi:
Ustadz Abdullah Roy, Lc pada laman https://konsultasisyariah.com/911-darimanakah-asal-usul-pembagian-3-tauhid.html
Komentar
Posting Komentar