Oleh: Ustadz Fadlan Fahamsyah حَفِظَهُ اللهُ
Redaksi Kaidah:
الانْتِسَابُ إلى الصَّالِحِينَ
لاَ يَنْتَفِعُ بِهِ صَاحِبُهُ إلاّ بِالتَّوحِيدِ وَالإِيْمَانِ
"Berafiliasi atau menisbatkan diri kepada orang shalih itu tidak bermanfaat bagi pelakunya kecuali dengan tauhid dan iman."
Penjelasan:
Siapapun seseorang yang mengaku dekat dengan orang shalih, baik itu berupa kedekatan nisbat, atau nasab keturunan, atau persahabatan, sesungguhnya semua itu tak bermanfaat bagi pelakunya tanpa tauhid yang murni.
Dalil:
Rasulullah ﷺ bersabda,
وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ
سَلِينِى مَا شِئْتِ مِنْ مَالِى لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
“Wahai Fatimah puteri Muhammad, mintalah padaku apa yang engkau mau dari hartaku, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah.” [HR. Bukhari No.2753 dan Muslim No.206]
Allah تَعَالَى berfirman,
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ
فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ
“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” [QS. Al Mu’minun: 101]
Contoh kaidah dan dalilnya:
Seorang yang memiliki hubungan nasab dengan seorang nabi, tidak bermanfaat nasab tersebut tanpa adanya tauhid, sebagaimana dahulu Nabi Nuh عليه السلام tidak bisa menolong anaknya dari banjir bandang karena dia menyekutukan Allah تَعَالَى.
Nabi Nuh berkata, "Wahai anakku, naiklah bahtera bersamaku dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir.” [QS. Hud: 42] Akan tetapi putranya tidak taat perintah Allah تَعَالَى, maka dia tenggelam bersama orang kafir, lalu Allah تَعَالَى berfirman, "Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan keluargamu.” [QS. Hud: 46]
Begitu juga Rasullah ﷺ tak mampu menolong pamannya, Abu Thalib karena dia (pamannya) enggan mengucap kalimat “لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ “.
Kedekatan nasab, tidak bermanfaat bagi pelakunya tanpa tauhid.
Disarikan
dari:
Walid bin
Rasyid as-su'aidan, Qawaid Fi Tawhid
ar-Rububiyah wa al-Uluhiyah wa al-Asma wa as-Shifat (Al-Manshurah: Dar
al-Lu'luah, 2018), 11, sebagaimana kami nukil dari akun facebook ustadz Fadhlan
Fahamsyah]
Komentar
Posting Komentar