Oleh: Ustadz Amir As-Soronji حَفِظَهُ اللهُ
Di antara perkara yang patut diketahui bahwa dosa dan maksiat pasti mendatangkan bahaya. Bahaya dosa dan maksiat terhadap hati seperti bahaya racun terhadap tubuh. Semakin besar dosa dan maksiat yang dilakukan maka semakin besar bahayanya. Tidaklah terjadi kesengsaraan di dunia maupun di akhirat melainkan disebabkan dosa dan maksiat.
Jika kita terus-menerus berbuat dosa dan maksiat maka Allah akan murka. Apabila Allah murka maka Dia akan menyerahkan urusan kita kepada pemimpin yang jahat.
Disebutkan oleh Imam Ahmad, dari Qatadah, ia menuturkan, “Nabi Musa berkata, ‘Ya Rabb! Engkau di langit sementara kami di bumi. Maka apa tanda kemurkaan-Mu dan keridhaan-Mu?’ Allah menjawab, ‘Jika Aku menyerahkan urusan kalian kepada orang-orang yang baik (kalian dipimpin oleh pemimpin yang baik), maka itu adalah tanda keridhaan-Ku terhadap kalian. Namun jika Aku menyerahkan urusan kalian kepada orang-orang yang jahat (kalian dipimpin oleh pemimpin yang jahat) maka itu adalah tanda kemurkaan-Ku terhadap kalian’.”(1)
Disebutkan oleh Ibnu Abi Dunya, dari Fudhail bin Iyadh, ia berkata, “Allah mewahyukan kepada sebagian Nabi, ‘Jika orang yang mengenal-Ku bermaksiat kepada-Ku, niscaya Aku akan menjadikan orang yang tidak mengenal-Ku sebagai pemimpinnya’.”(2)
Oleh karenanya kalau kita ingin pemimpin yang adil, yang menyayangi dan memperhatikan hak-hak rakyatnya maka hendaknya kita menaati Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Ingatlah...
اللهُ مَالِكُ المُلُوْكِ،
قُلُوْبُ المُلُوْكِ بِيَدِهِ، فَمَنْ أَطَاعَهُ جَعَلَهُمْ عَلَيْهِ رَحْمَةً،
وَمَنْ عَصَاهُ جَعَلَهُمْ عَلَيْهِ نِقْمَةً، فَلَا تُشْغِلُوا أَنْفُسَكُمْ
بِسَبِّ الْمُلُوْكِ، وَلَكِنْ تُوْبُوْا إِلَيَّ يُعَطِّفْهُمْ عَلَيْكُمْ
Allah adalah penguasa para pemimpin, hati-hati mereka berada di tangan-Nya. Maka barangsiapa yang taat kepada-Nya niscaya Dia akan menjadikan mereka (para pemimpin) menyayanginya. Barangsiapa bermaksiat kepada-Nya niscaya Dia akan menjadikan pemimpin sebagai azab atasnya. Jangan kalian menyibukkan diri-diri kalian dengan mencaci maki para pemimpin, akan tetapi bertaubatlah kalian kepada-Nya niscaya Dia akan menjadikan mereka (para pemimpin) menyayangi kalian.
Ubahlah kemaksiatan kalian dengan ketaatan, niscaya Allah akan mengubah pemimpin yang zalim dengan pemimpin yang adil.
Allah berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ
مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”(3)
Allah berfirman yang artinya, “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”(4)
Apabila kita mengubah kemaksiatan dengan ketaatan niscaya Allah akan mengubah pemimpin yang zalim dengan pemimpin yang adil. Jika kita (rakyat) dan pemimpin taat kepada Allah maka kita akan menjadi umat yang mulia.
Allah berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ
فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.”(5)
Yakni hendaklah ia mencari kemuliaan dengan menaati Allah, sebab ia tidak akan mendapatinya melainkan dalam ketaatan kepada-Nya.(6)
__________
(1) Az-Zuhd,
hal. 227.
(2) Atsar ini
dibawakan oleh Ibnu Katsir dalam Tarikhnya (13/81).
(3) Surat
Ar-Ra’d (13), ayat: 11.
(4) Surat
Al-Anfal (8), ayat: 53.
(5) Surat
Faathir (35), ayat: 10.
(6) Ad-Daa wa
ad-Dawaa, hal. 92, karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah.
[Disalin dari akun FB beliau]
Komentar
Posting Komentar