Adakah Hukum Karma dalam Ajaran Islam


Pertanyaan:
Apakah karma itu ada dalam Islam?

Jawaban:

الكارما – عند الهندوس – : قانون الجزاء ، أي أن نظام الكون إلهي قائم على العدل المحض، هذا العدل الذي سيقع لا محالة إما في الحياة الحاضرة أو في الحياة القادمة ، وجزاء حياةٍ يكون في حياة أخرى ، والأرض هي دار الابتلاء كما أنها دار الجزاء والثواب

“Karma menurut ajaran hindus adalah “hukum  balasan” yaitu aturan ilahi yang berdasarkan keadilan murni. Keadilan ini terjadi bisa jadi pada kehidupan saat ini atau di kehidupan yang akan datang. Balasan keihdupan ini akan terjadi pada kehidupan selanjutnya. Bumi adalah tempat ujian sebagaimana juga sebagai tempat balasan kebaikan dan keburukan.” [Al-Muasu’ah Al-Muyassarah Fil Adyan wa Mazahib wal Ahzab hlm.728]

Ibnul Qoyyim al-Jauziyah  رَحِمَهُ اللهُ berkata :

وَمَنْ عَامَلَ خَلْقَهُ بِصِفَةٍ عَامَلَهُ اللهُ تَعَالَى بِتِلْكَ الصَّفَةِ بِعَيْنِهَا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Barang siapa yang menyikapi makhluk Allah (orang lain) dengan suatu sikap/sifat maka Allah akan menyikapinya dengan sikap tersebut pula di dunia dan di akhirat”. [Al-Waabil As-Shoyyib hlm.49]

Oleh sebab itu,
1.      Barang siapa yang memaafkan saudaranya maka Allah akan memaafkannya. Allah   berfirman,

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” [QS An-Nuur(24): 22]

Akan tetapi sikap memaafkan bertingkat-tingkat, yakni:
a)  Ada yang memaafkan akan tetapi masih menggerutu.
b)  Ada yang memaafkan akan tetapi tetap saja menyimpan dendam, hanya saja tidak membalas kesalahan saudaranya tersebut.
c)  Ada yang memaafkan dengan sesungguh-sungguhnya, bahkan bersikap baik dengan saudaranya tersebut, kesalahan saudaranya benar-benar ia lupakan.
d)  Ada yang memaafkan dan melupakan setelah ia berkesempatan untuk membalas. Allah berfirman,

أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا

“Atau (jika engkau) memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” [QS An-Nisa’(4): 149]

Maka, sejauh mana tingkat memaafkannya kepada saudaranya tersebut, maka demikianlah Allah akan memaafkannya.

2.      Barang siapa yang menerima udzur saudaranya sehingga memaafkannya maka Allah pun akan menerima udzurnya tatkala di akhirat kelak. Semakin mudah ia menerima udzur saudaranya, maka semakin mudah pula Allah akan menerima udzurnya, begitupun sebaliknya.

3.      Barang siapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah juga akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Semakin banyak orang yang ia tutup aibnya, maka semakin banyak pula aibnya yang akan tertutupi di dunia dan akhirat.

4.      Barang siapa yang membantu dan meringankan beban dan kesulitan saudaranya maka Allah akan meringankan bebannya di dunia sebelum di akhirat. Rasulullah bersabda,

وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang membantu memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi hajatnya, barang siapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat, dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” [HR. Al-Bukhari No.2442 dan Muslim No.2580)

5.      Barang siapa yang mencari-cari, mengorek-ngorek aib/kesalahan saudaranya, maka demikian pula Allah akan mencari-cari kesalahannya di dunia sebelum di akhirat. Rasulullah bersabda,

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلم يَدْخُل الإيمَانُ قَلْبَهُ ! لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya akan tetapi iman belum masuk kedalam hatinya, janganlah kalian mengghibahi kaum muslimin, dan janganlah pula mencai-cari aib mereka, sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan barangsiapa yang Allah mencari-cari kesalahannya maka Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya.” [HR Abu Dawud No.4880]

6.      Barang siapa yang mempersulit atau memperberat urusan saudaranya, terlebih lagi mendzaliminya, maka Allah akan mensikapinya demikian pula di dunia sebelum di akhirat. Rasulullah bersabda,

وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقِ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menyulitkan (orang lain) maka Allah akan mempersulitnya para hari kiamat.” [HR Al-Bukhari No.7152]

7.      Barang siapa yang merahmati hamba-hamba Allah (termasuk hewan), maka Allah akan merahmatinya.

8.      Barang siapa yang berinfaq (memberi sedekah) kepada hamba-hamba Allah maka Allah akan memberi harta kepadanya. Rasulullah bersabda :

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا بْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقَ عَلَيْكَ

“Allah tabaaraka wa ta’aala berkata : Wahai anak Adam, berinfaklah maka akan diinfakan kepadamu.” [HR Al-Bukhari No.4683 dan Muslim No.993]

9.      Barang siapa yang bergaya dengan sesuatu yang tidak ia miliki maka suatu saat  Allah akan membongkarnya :

Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه berkata :

وَمَنْ تَزَيَّنَ لِلنَّاسِ بِمَا يَعْلَمُ اللهُ مِنْهُ غَيْرَ ذَلِكَ يَشِنْهُ اللهُ

“Barang siapa yang bergaya (menunjukkan sesuatu keutamaan/kebaikan) kepada manusia yang Allah tahu bahwasannya ia tidak demikian maka Allah akan membongkar keburukannya.” [Taariikh Dimasyq 32/72, lihat juga Nashbur Rooyah karya Az-Zaila’i 4/81]

Tatkala seseorang menunjukkan sesuatu yang ternyata berlawanan dengan batinnya (hakekat dirinya yang sesungguhnya) maka Allah akan menyikapinya juga sebaliknya, yaitu Allah akan membawanya kepada lawan dari tujuannya. Tujuannya ingin bergaya agar dipuji maka Allah akan membongkar aibnya tersebut. [I’laam Al-Muwaqqi’in karya Ibnul Qoyyim 2/180-181]

Karenanya tatkala seorang bersikap berpura-pura di hadapan manusia, menunjukkan seakan-akan ia adalah seorang yang alim, khusyu’ dalam sholatnya, zuhud terhadap dunia, dan ikhlas, maka suatu saat Allah akan membongkar hakekat dirinya tersebut. Sebagaimana ia menipu manusia, maka Allah pun akan menipunya.

10.   Barang siapa yang dzalim dan bengis terhadap manusia maka Allah akan menyiksanya dengan sadis juga. Para penguasa yang bengis dan sadis terhadap rakyatnya maka suatu saat ia akan merasakan kebengisan dan kesadisan tersebut menimpa dirinya.

Rasulullah bersabda,

اللَهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفِقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

“Ya Allah, barang siapa yang menjadi wali/mengurusi perkara umatku lalu ia memberatkan mereka maka beratkanlah perkaranya, dan barang siapa yang mengurusi suatu perkara umatku lalu ia lembut kepada mereka maka lembutlah kepadanya.” [HR. Muslim No.1828]

والله أعلمُ بالـصـواب

Referensi:
1.   Ustadz dr. Raehanul Bahraen pada laman https://muslim.or.id/40775-hukum-karma-dalam-pandangan-islam.html
2.   Ustadz Dr. Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, Lc. MA pada laman www.firanda.com

Komentar